Rully sendiri menyebut hingga saat ini dirinya maupun peneliti lain di LSI Denny JA belum menerima ancaman dari pihak manapun terkait dengan hasil hitung cepat Pemilu 2019 yang dikeluarkan oleh pihaknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biar publik yang menilai hasil kerja para lembaga apakah kredibel atau tidak," ujarnya.
Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Rully Akbar (kiri). (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/Asf/ama/15.) |
"Kami tidak melakukan pelanggaran, semua on the track di bawah payung hukum aturan dan UU berlaku," ucap Rully.
Lebih lanjut, Rully menegaskan pihaknya siap mempertanggungjawabkan hasil hitung cepat yang telah dibuat jika memang terjadi kesalahan.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengaku kerap menerima ancaman. Lembaganya merupakan salah satu penyelenggara quick count yang memberi hasil kemenangan untuk paslon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin.
"Sampai hari ini ancaman baik lewat telpon dan Whatsapp ke saya enggak berhenti, dan saya sudah catat semua nomornya dan screenshot isinya. Kalau niat Anda bikin saya takut, yang ada saya makin kebal, tinggal tunggu akibat hukum saja ya," kicaunya, melalui akun Twitter pribadinya.
[Gambas:Twitter]
Lembaganya juga jadi salah satu yang dilaporkan oleh Koalisi Aktivis Anti Korupsi dan Hoaks (KAMAHK) ke Bareskrim Polri atas dugaan melakukan kebohongan publik.
Lembaga lainnya yang dilaporkan tersebut adalah Indo Barometer, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Poltracking, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), serta Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem).
[Gambas:Video CNN] (dis/arh)
Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Rully Akbar (kiri). (