Sosok Sandi akhirnya terlihat ketika Prabowo mendeklarasikan kemenangan untuk ketiga kalinya pada Kamis (18/4) malam.
Namun, ekspresi dan gelagat Sandi dalam deklarasi malam itu membuat banyak pihak bertanya-tanya. Pasalnya, mimik dan gesture Sandi tidak mencerminkan seseorang yang telah memenangkan pesta demokrasi lima tahunan. Apalagi Sandi tak pernah memasang muka lusuh seperti itu sebelum-sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pakar semiotika politik, Silvanus Alvin, gesture itu menunjukkan bahwa Sandi tidak nyaman menjadi pusat perhatian dalam momen besar tersebut.
"Komunikasi politik ada dua yakni verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal itu 30 persen, sementara nonverbal 70 persen, jadi orang lebih bisa menangkap dengan cepat komunikasi nonverbal tanpa harus ada penjelasan," kata Silvanus kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (19/4).
"Tanpa Sandi harus berkata, para penonton bisa memecah sinyal yang ia berikan lewat ekspresinya kemarin. Selama deklarasi tatapan Sandi tidak mengarah ke media, tapi ke bawah. Gesture ini tidak menunjukkan seorang pemenang dan justru memperlihatkan ketidaknyamanan," ujar Silvanus.
Padahal, Silvanus menganggap Sandi selama ini terkenal dengan keramahan pada warga dan senyumannya ketika tampil di depan publik, apapun keadaannya.
"Gesture Sandi yang cenderung menyilangkan tangannya ke belakang juga seolah menunjukkan kalau dia itu hanya manut saja dalam momen itu. Istilahnya seperti nurut perintah saja," papar Silvanus.
Selain soal raut wajah, Silvanus memaparkan ketidaksetujuan Sandi dengan sikap Prabowo juga terlihat dari caranya berpakaian malam itu.
Dosen Komunikasi Politik dari Universitas Bunda Mulia itu mengatakan Sandi hanya memakai kaus polo berwarna biru tua. Sementara itu, pasangannya, Prabowo, mengenakan pakaian safari khasnya berwarna krem dalam momen sepenting itu.
Padahal selama ini keduanya terbilang cukup kompak saat harus tampil bersama di depan publik. Selama dua kali tampil dalam debat bersama, Prabowo-Sandi juga terlihat kompak dengan mengenakan setelan jas dan peci.
"Pakaian safari Prabowo oke lah masih formal, menunjukkan kalau dia menganggap momen deklarasi itu penting. Tapi malam kemarin, Sandi hanya memakai kaus polo, itu kan semi formal. Dan etis enggak sih memakai pakaian seperti itu di momen kemenangan pilpres kemarin?" kata Silvanus.
"Sandi tentu pasti hapal terkait momen pemilu 2014 lalu ketika ada dua klaim kemenangan. Saya rasa dengan gesture malam itu, Sandi memang sebenarnya tidak ingin tercebur dalam narasi politik yang sama yang dibuat pasangannya pada Pilpres 2014 karena ini persoalan harga diri dan malu," kata Silvanus.
Silvanus melihat, jika klaim kemenangan Prabowo benar-benar sesuai hasil perhitungan resmi KPU, maka kubu paslon 02 bisa menepis semua hasil quick count lembaga-lembaga survei. Tapi bila hasil real count KPU sebaliknya, maka deklarasi kemenangan Prabowo itu hanya membuat Sandi malu besar.
"Tapi jika ternyata hasil akhir rekapitulasi suara sesuai dengan hasil quick count, ini bisa menjadi kemaluan besar bagi Sandi. Karena orang tidak akan lupa rekam jejak politik," kata Silvanus.
Lebih lanjut Silvanus melihat seharusnya kubu Prabowo-Sandi bisa lebih bijak dalam menyikapi momen usai gelaran Pemilu 2019 ini.
"Seharusnya Prabowo-Sandi menunggu saja hasil rekapitulasi suara dari KPU RI. Kedua, mereka seharusnya membangun narasi politik yang mendorong warga ke arah persatuan, kembali ke pancasila sila ketiga," ucap Silvanus.
[Gambas:Video CNN]