Hal ini dikatakan terkait ratusan korban jiwa petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dalam gelaran Pemilu 2019 yang memakai format pemilu serentak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, Fajar tetap menyarankan ada perbaikan sistem lebih dahulu dalam penyelenggaraan pemilu serentak. Pihaknya juga menyarankan evaluasi menyeluruh terhadap ajang Pemilu 2019.
Effendi Ghazali, salah satu penggugat uji materi soal pemilu serentak yang dikabulkan MK, dari yang tadinya terpisah antara pileg dan pilpres. (CNN Indonesia/Denny Armandhanu) |
Data terbaru Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat bahwa jumlah yang meninggal dunia bertambah menjadi 144 orang dan 883 petugas lainnya sakit.
Fajar pun menolak disalahkan atas korban jiwa dalam Pemilu 2019 itu, meski lembaganya lah yang mengabulkan uji materi pemilu digelar serentak.
"Ketika [pemilu serentak] kemudian dilaksanakan, ada persoalan, jangan kemudian menyalahkan putusan MK. Karena putusan MK berdasarkan konstitusi. Ya konstitusi begitu bunyinya. Itu bukan berarti putusan MK keliru," dia menambahkan.
Fajar menyebut sejumlah faktor yang membuat tugas KPPS berat pada Pemilu 2019 ini.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen |
Diketahui, MK juga memutus bahwa batas waktu penghitungan suara di TPS ditambah 12 jam, dari sebelumnya yang harus diselesaikan di hari yang sama dengan pencoblosan.
Terkait anggaran Pemilu 2019 yang mencapai Rp25 triliun, Fajar enggan menanggapinya. Menurutnya, pemilu serentak digelar karena mempertimbangkan efektivitas waktu dan efisiensi anggaran.
Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengkritisi gelaran Pemilu 2019. Menurutnya, korban dari petugas KPPS ini tak lepas dari skema pemilu serentak. Ia pun mendorong DPR untuk melakukan perubahan perundangan.
[Gambas:Video CNN] (fnr/arh)
Effendi Ghazali, salah satu penggugat uji materi soal pemilu serentak yang dikabulkan MK, dari yang tadinya terpisah antara pileg dan pilpres. (
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen