Banjir merendam wilayah Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu sejak 26 April lalu. Sedikitnya 17 orang warga tewas dan belasan ribu mengungsi akibat banjir tersebut.
"Banjir yang melanda hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu tidak bisa hanya ditimpakan pada hujan yang mengguyur daerah ini pada 26 April 2019 sejak siang hingga malam hari tapi ada akar masalah yang harus diungkap yaitu tambang batu bara di hulu Sungai Bengkulu," kata Direktur Kanopi Bengkulu, Ali Akbar di Bengkulu, Minggu (28/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Air juga menggenangi permukiman warga di sejumlah kelurahan dalam Kota Bengkulu yang berada di sepanjang aliran Sungai Bengkulu seperti Rawa Makmur, Tanjung Jaya, Tanjung Agung, dan Bentiring.
Ia mencontohkan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di Teluk Sepang yang menabrak Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) karena proyek energi berbahan batu bara direncanakan hanya ada di Napal Putih, Bengkulu Utara.
"Pembangunan yang terlalu sembrono dan menihilkan dampak ekologis harus segera diakhiri, jangan jadikan hanya syarat di atas kertas karena saat bencana datang seluruh masyarakat yang akan menanggung akibatnya," ucapnya.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Minggu (28/4) malam pukul 19.00 WIB mencatat korban tewas bencana banjir dan longsor di Bengkulu bertambah menjadi 17 orang, dua orang luka berat, dua orang luka ringan, dan sembilan orang hilang.
"Sebaran dari 17 orang meninggal dunia terdapat di Kabupaten Bengkulu Tengah 11 orang, Kota Bengkulu tiga orang, dan Kabupaten Kepahiang tiga orang," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, melalui keterangan tertulisnya.
Bencana yang menerjang 9 kabupaten/kota di Bengkulu itu, lanjut Sutopo, juga mengakibatkan 13 ribu orang terdampak bencana, dengan 12 ribu orang di antaranya mengungsi. Bantuan senilai Rp2,25 miliar disalurkan ke lokasi bencana.
"Jumlah ternak yang mati sebanyak 106 ekor sapi, 102 ekor kambing/domba dan empat ekor kerbau. Sedangkan kerusakan fisik meliputi 184 rumah rusak, tujuh fasilitas pendidikan, dan 40 titik sarana prasarana infrastruktur," urainya.
[Gambas:Video CNN] (wis)