Menurut Hidayat, tagar tersebut memang tidak akan digunakan lagi setelah masa kampanye selesai dan akan diganti sesuai arahan BPN.
"Agar tagarnya tidak lagi 2019 Ganti Presiden tapi langsung menyebut nama yaitu 2019 Presiden Baru Prabowo," kata Hidayat saat dihubungi CNNIndonesia.com, Minggu (5/5).
Dia menilai pernyataan Mardani dipahami dengan cara yang salah karena dipelintir oleh sejumlah pihak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun mengklaim Mardani hampir setiap hari mendatangi tempat penghitungan suara untuk tetap memberikan semangat kepada para relawan yang mengawal rekapitulasi suara agar tidak terjadi kecurangan.
"Jadi pernyataan beliau itu bukan untuk kemudian dipahami seolah-olah menyerah dan kemudian membiarkan yang lain menang," ujarnya.
"Enggak mungkin dong Pak Mardani melakukan upaya untuk melemahkan daya juang internal," kata Hidayat.
Sebelumnya, Mardani diketahui mengatakan hal tersebut saat menanggapi soal rekonsiliasi usai pilpres digelar. Dalam tanggapannya ia meminta agar kedua kubu tidak perlu memberikan tanggapan satu sama lain lantaran masa kampanye dan pilpres telah selesai.
"Contoh nih saya dikenal penggagas hashtag 2019GantiPresiden. Per 13 April saya sudah mengharamkan diri tidak boleh teriak lagi ganti presiden. Sudah selesai. Kenapa? Karena itu sudah hari terakhir kampanye. Sekarang apalagi, sudah selesai kompetisinya. Kita kembali normal," ujar Mardani di kompleks DPR, Jakarta, Jumat (3/5).
Menanggapi hal itu, juru Bicara BPN, Andre Rosiade mengatakan pihakya tidak sepakat dengan pernyataan Mardani. Andre pun menilai, ucapan Mardani sebagai ucapan yang dapat mengganggu semangat para relawan BPN.
"Dengan adanya pernyataan pak Mardani ini, saya tidak sepakat. Saya kira ada omongan yang tidak perlu diucapkan karena akan mengganggu fokus spirit para relawan" ucap Andre.
[Gambas:Video CNN] (ani/dea)