Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan sasaran dari aksi penyerangan kedua kelompok tersebut adalah aparat kepolisian.
"Mereka masih konsisten melakukan amaliyah dengan sasaran aparat kepolisian yang mereka anggap selama hampir 20 tahun melakukan penegakan hukum secara masif terhadap kelompok-kelompok tersebut," tutur Dedi di Mabes Polri, Kamis (9/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sisi kedua mereka menginginkan chaos. Kalau merembet ke mana-mana, kalau merembet ke mana-mana, sleeping-sleeping cell mereka akan bangkit seperti kerusuhan di negara Suriah, Irak maupun di Malawi, konsepnya seperti itu," ucap Dedi.
Sebelumnya, Densus 88 Antiteror Polri menangkap delapan terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Lampung selama tiga hari. Delapan terduga teroris ini ditangkap di daerah yang berbeda yaitu Bitung, Tegal, dan Bekasi, pada Kamis (2/5), Sabtu (4/5), dan Minggu (5/5).
Penangkapan terduga teroris yang dilakukan pada hari Sabtu (4/5) dan Minggu (5/5) berawal dari penangkapan dua tersangka di Bitung, Sulawesi Utara, yakni RH dan M, pada Kamis (2/5). Terduga RH dan M ditangkap pada saat ingin naik kapal dari Bitung menuju Poso.
Lalu pada Minggu (5/5), Densus 88 menangkap tiga terduga teroris, yakni MI (32) yang ditangkap di Perumahan Jaka Kencana, Bekasi; IF (19) ditangkap di Jalan Dr Ratna Jati Bening, Bekasi; dan T (25) ditangkap di Jalan Cluster The California, Bekasi. T terpaksa ditembak karena melempar bom ke arah Densus 88.
Kemudian, pada Rabu (8/5), Densus 88 menangkap EY yang diketahui merupakan amir dari JAD Bekasi. Selain itu, Densus menangkap YM alias Kautsar yang diketahui merupakan anak buah dari EY. (dis/wis)