Kala itu, SBY hadir di acara mengenakan batik berwarna ungu.
"Pak SBY mendukung Pak Prabowo salah satunya ditujukan di Pidato Kebangsaan Prabowo. Bahkan naskahnya beliau koreksi sendiri. Setelah bolak-balik disepakati naskah akhir dengan durasi sekitar 40 menit. Tahu apa yang terjadi? Prabowo baca naskah lain 1,5 jam," tutur Panca melalui cuitannya @panca66, Jumat (10/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal naskah yang disepakati 40 menit, kalau itu dibacakan, akan sangat bagus. Tapi ya itu, pak Prabowo punya ide sendiri. Tapi yang sederhana aja enggak diikuti," kata Panca.
[Gambas:Twitter]
Berkaca dari kejadian itu, Panca menegaskan tudingan Kivlan sama sekali tidak benar. SBY, kata Panca, jelas-jelas serius membantu Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2019.
Kivlan menduga SBY tidak ingin ada jenderal lain yang menjadi presiden selain dirinya.
"Sampaikan saja bahwa SBY licik. Dia junior saya, saya yang mendidik dia, saya tahu dia orangnya licik, dia mendukung 01 waktu menang 2014," ucap Kivlan.
Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief menanggapi pernyataan Kivlan. Dia mengkategorikan Kivlan sebagai orang yang kalah. Andi mengatakan dulu Kivlan kalah karena gagal mempertahankan Soeharto di kursi presiden.
Andi menganggap orang yang kalah, seperti Kivlan, cenderung menjadi mudah menyalahkan orang lain. Pula, mudah menuding orang lain berlaku licik.
"Bagi orang yang kalah dan tidak mengerti dimana letak kekalahannya maka paling mudah bilang orang licik," ucap Andi.
[Gambas:Video CNN] (bmw/ugo)