Data yang didapatkan dari 34 provinsi itu telah diperbarui pada pukul 09.00 WIB per tanggal 13 Mei 2019.
Jumlah pengawas pemilu yang meninggal mencapai 92 orang. Jumlah tertinggi pengawas yang meninggal berada di Jawa Barat, yakni 21 orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komisioner Bawaslu RI Fritz Edward Siregar mengatakan penganiayaan atau kekerasan bisa terjadi karena berbagai motif.
"Mungkin dia melakukan proses pemukulan. Bisa terjadi," tambahnya.
Namun, untuk penyebab masing-masing kekerasan secara detail, Fritz bisa menjelaskannya.
Panitia Pemungutan Suara Kecamatan (PPK) Duren Sawit bersama saksi dan Panwaslu di Gedung Senam, Jakarta Timur, Jumat (26/4). (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Kemudian, terdapat 435 pengawas yang sakit dan harus dirawat inap. Sementara 1.704 pengawas lainnya juga sakit dan harus dirawat jalan.
Sebelumnya, Bawaslu mencatat jumlah petugas Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) yang meninggal dunia selama melaksanakan tugasnya sebanyak 92 orang. Data ini berdasarkan catatan Bawaslu pada Kamis (2/4).
Ketua Bawaslu Abhan mengatakan 92 anggota Panwaslu dari sejumlah daerah itu meninggal saat melaksanakan tugas mengawasi pemilu serentak. Mereka terdiri dari 74 laki-laki dan 18 perempuan.
Selain itu, sebanyak 398 orang masih rawat inap di rumah sakit, 1.592 rawat jalan, 250 orang mengalami kecelakaan, 14 orang cacat tetap, dan 14 petugas mengalami keguguran.
Abhan menyebut anggota Panwaslu yang meninggal sebagai pahlawan dan pejuang demokrasi. Mereka melakukan pengawasan Pemilu 2019 dengan sebaik-baiknya.
Bawaslu memberikan santunan dan piagam penghargaan kepada petugas yang wafat. Besaran santunan itu sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan Kementerian Keuangan. Untuk korban meninggal dunia diberi Rp36 juta ditambah santunan dari internal Bawaslu.
[Gambas:Video CNN] (ani/pmg)
