Keranda yang mereka bawa itu berisi maneken yang dibalut kain kafan. Sambil mengiringi 'jenazah', para perempuan itu membawa poster dan spanduk yang berbunyi protes dugaan kecurangan pemilu.
Berbagai protes yang ditulis antara lain tuntutan audit forensik IT KPU, hingga netralitas TNI, Polri dan Aparatur Sipil Negara. Di tengah peristiwa itu, sesekali terdengar orasi menyoal dari koordinator aksi yang teriak soal audit sistem IT KPU hingga soal insiden ratusan petugas KPPS yang tewas selama Pemilu 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keranda berisi manekin berselimut kain kafan dibawa oleh emak-emak PIB sebagai simbol kematian demokrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Dugaan kecurangan itu antara lain soal rekayasa penghitungan hasil pemilu berdasarkan sistem penghitungan (Situng) KPU. Keberpihakan aparat negara, hingga kebebasan berpendapat yang menurut mereka diberangus di era Jokowi.
Untuk menguatkan pesan yang hendak diusung, massa aksi memasang baliho raksasa warna hitam bertuliskan 'RIP Demokrasi' tepat di muka mobil komando.Di pengujung aksi, para emak-emak melakukan aksi doa dan selawat bersama.
Sebelumnya, Koordinator Presidium PIB Monica Soraya mengatakan pihaknya ingin agar situng KPU bisa dihentikan karena telah terjadi kecurangan.
Salah satu bagian adegan teatrikal PIB di depan Istana Merdeka, Kamis (16/5). (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Selain itu, Monica juga mengatakan pihaknya menuntut keadilan atas ratusan petugas KPPS yang meninggal dunia selama pemilu.
Sikap PIB ini hampir serupa dengan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Prabowo sebagai calon presiden bahkan menegaskan siap menolak hasil penghitungan suara oleh KPU jika terbukti ada kecurangan.
Prabowo menempatkan diri sebagai korban kecurangan pemilu.
Sementara itu pemerintah, pada hari ini telah menegaskan tidak melakukan kecurangan atau bekerjasama dengan penyelenggara pemilu untuk memenangkan salah satu pasangan calon. Hal itu ditegaskan langsung oleh Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, hari ini.
"Saya berani bersumpah di bulan puasa ini demi Allah Yang Maha Kuasa, tidak pernah ada niatan, pemikiran, tindakan, 'eh Pak KPU sini ya kita rundingan, kita menangkan paslon nomor sekian'. Tidak pernah ada," ujar Wiranto di hadapan peserta Rakornas Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial Tahun 2019 di Hotel Grand Paragon, Jakarta, Kamis. (wis/ani/wis)
Keranda berisi manekin berselimut kain kafan dibawa oleh emak-emak PIB sebagai simbol kematian demokrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Salah satu bagian adegan teatrikal PIB di depan Istana Merdeka, Kamis (16/5). (CNN Indonesia/Andry Novelino)