Pantauan CNNIndonesia.com, Jumat (17/5), massa tersebut memakai busana putih-putih, dan membawa poster bernada protes.
Beberapa di antara massa membawa poster bertuliskan 'Gerakan Kedaulatan Rakyat' dan juga membentangkan spanduk bergambar Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saking banyaknya, Choirudin pun mengkategorikan sejumlah kecurangan tersebut menjadi tiga. Yakni Prapemilu, pemilu, dan Pascapemilu.
"Prapemilu. DPT ganda, invalid dan manipulatif. Tertangkapnya ratusan ribu amplop yang dislapkan untuk serangan fajar. Ditemukan surat suara yang diduga sudah tercoblos ke salah satu paslon," kata dia.
Demo di Depan Bawaslu Jawa Timur. (CNN Indonesia/Farid) |
"Banyak TPS yang tidak netral dan masyarakat yang akan mencoblos merasa terintimidasi karena ditempatkan di rumah kepala desa yang pro salah satu paslon dan kader partai," kata dia.
"Pasca Pemilu. Ada penggiringan opini oleh media massa melalui pengumuman Quick Count dan Situng KPU bahwa paslon nomor 01 sudah menang," kata dia.
Maka itu, kata Choirudin, massa menolak penetapan presiden-wakil presiden periode 2019-2024, yang dihasilkan dari kecurangan dan manipulasi suara rakyat.
"Menuntut dibentuknya Tim Pencari Fakta atas wafatnya ratusan penyelenggara pemilu. Agar di masa depan kejadian ini tidak terulang lagi," katanya.
Sementara, beberapa perwakilan massa aksi masih bertemu dengan Komisioner Bawaslu Jatim, di dalam kantor, untuk melakukan dialog dan mediasi.
[Gambas:Video CNN] (frd/ugo)
Demo di Depan Bawaslu Jawa Timur. (CNN Indonesia/Farid)