Alasannya, untuk memperlihatkan pihaknya memang menolak hasil Pilpres yang terindikasi penuh kecurangan ini.
"Ya, tidak tanda tangan. Khususnya di sana (di provinsi Pulau Jawa)," kata Ferry di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I, Jakarta Selatan, Jumat (17/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan cuma sekadar penjumlahan suara, sekaligus ini mengawasi pelaksanaan Pemilu. Ada pelanggaran yang mengharuskan PSU, kenapa tidak dilaksanakan. Jumlah pemilih tidak memenuhi syarat di TPS, itu dibiarkan," kata dia.
Jumlah pemilih di Pulau Jawa memang disebut paling besar dalam Pemilu 2019 ini.
Dalam kesempatan itu, Ferry juga menyebut pihaknya telah memberi catatan khusus untuk pelaksanaan Pemilu di luar negeri. Namun, catatan yang mereka sampaikan justru tak pernah ditindaklanjuti oleh KPU.
"Kami juga mencatat untuk luar negeri, seperti Washington, Hong Kong, Malaysia. Kan banyak. Kami bukan soal perolehan angka, ya," ucap dia.
Misalnya kata dia, untuk pemilihan di Malaysia, pihaknya telah meminta KPU membatalkan pemungutan suara di Malaysia melalui metode pos.
"Misalnya proses di Malaysia, kenapa tidak seluruh dilakukan pemungutan suara atau batalkan seluruh pos, lalu kami pakai suara Dropbox dan TPS. Kemudian tadi, di daerah tenaga kerja kami besar. Informasi kami masyarakat kesulitan menggunakan suara," kata dia. (tst/fea)