Kekurangan Peserta, Tour Jihad 22 Mei dari Surabaya Batal

CNN Indonesia | Minggu, 19/05/2019 04:58 WIB
Kekurangan Peserta, Tour Jihad 22 Mei dari Surabaya Batal Massa pendukung Capres 02 Prabowo Subianto berkumpul di Jalan MH Thamrin depan Kantor Bawaslu RI memprotes apa yang mereka tuding sebagai kecurangan pemilu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Massa dari Surabaya yang ingin mengikuti aksi pada 22 Mei mendatang dengan paket Tour Jihad Jakarta batal berangkat lantaran jumlah peserta yang terlalu sedikit. Hal itu diutarakan Koordinator Tour Jihad Jakarta, Roni.

Sebelumnya, Roni berencana mengoordinasi massa dari Surabaya menuju Jakarta yang ingin mengikuti aksi menolak kecurangan pemilu 2019 pada 22 Mei mendatang. Rencananya, massa berangkat melalui jalur darat pada Minggu (19/5).

"Kita batal berangkat. Tour Jihad Jakarta batal. Peserta tidak memenuhi kuota," ucap Roni kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Minggu (19/5) dini hari WIB.


Roni mengatakan pembatalan sudah disepakati bersama peserta aksi yang sudah mendaftar. Dalam hal ini, tegasnya, tidak ada pula yang merasa dirugikan.

"Mungkin ada isu-isu yang membuat peserta enggak jadi berangkat," ucap Roni.


Roni diketahui mengoordinasi massa dari Surabaya yang ingin mengikuti aksi di Jakarta. Agenda aksi itu sendiri adalah menolak hasil pemilu dengan tudingan sarat dengan kecurangan.

Dalam rencana perjalanan Tour Jihad yang dikoordinasi Roni itu terdapat beberapa jenis paket.

Pertama, bus besar isi 50 orang. Biayanya dipatok Rp450 ribu. Kedua, paket bus mini isi 30 orang seharga Rp 400 ribu. Paket ketiga yakni mobil Elf. Muat untuk 12 orang. Harga dipatok Rp600 ribu. Paket keempat yaitu mobil Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, atau Suzuki Ertiga. Muat 6 orang dengan biaya Rp600 ribu.

Pemberangkatan direncanakan pada Minggu (19/5) dan pulang ke Surabaya pada Kamis (23/5). Namun, rencana tersebut dibatalkan.


Sementara itu, semalam, di sejumlah titik pemberangkatan polisi melakukan pengecekan dan razia, 'menyapu' pergerakan massa ke Jakarta jelang 22 Mei.

Beberapa titik yang di antaranya menjadi tempat pengecekan polisi dan petugas gabungan adalah Jembatan Nasional Suramadu, Terminal Purabaya, dan Bandara Juanda.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, AKBP Antonius Agus Rahmanto mengatakan pengamanan yang digelar TNI-Polri itu dilakukan dalam rangka pengamanan Pemilu 2019 jelang penetapan hasil oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Agus menerangkan dalam kegiatan tersebut petugas mengecek setiap kendaraan yang melintas. Sweeping itu, kata Agus, bagian dari operasi pengamanan Pemilu 2019, dan mengantisipasi pergerakan massa aksi people power dari Madura yang hendak menuju Jakarta.

"Menghindari hal yang tidak diinginkan, kami turun langsung di exit tol Jembatan Suramadu untuk antisipasi gerakan people power," kata dia.

Hal serupa pula dilakukan di Terminal Purbaya. Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, Sabtu (18/5) malam, sejumlah personel gabungan yang terdiri dari Polisi, TNI, dan Brimob bersiaga. Mereka melakukan pengecekan di setiap bus yang keluar-masuk terminal tersebut.


Kapolresta Sidoarjo Kombes Zain Dwi Nugroho mengatakan pihaknya akan benar-benar selektif dalam pengamanan ini. Polisi juga akan memeriksa satu persatu barang bawaan dan kelengkapan identitas tiap penumpang.

Jadi kalau ada yang mencurigakan kita akan lakukan pengecekan seperti barang-barang yang dilarang seperti senjata tajam, bahan peledak, termasuk tidak membawa identitas pasti kita akan melakukan pemeriksaan," ujar Zain.

Tak hanya itu, Polisi juga bakal menanyai untuk keperluan apa tujuan para penumpang tersebut bertolak ke Jakarta. Hal itu, menurutnya perlu dilakukan untuk menangkal gelombang pergerakan massa ke Jakarta jelang 22 Mei 2019.


(bmw/kid)