Di Jawa Timur misalnya, provinsi yang dijuluki 'kuburan' bagi para artis, banyak pesohor yang tumbang. Dari 19 artis yang maju di wilayah itu hanya dua yang diprediksi akan lolos ke Senayan. Yakni, Krisdayanti (PDIP), dan Arzeti Bilbina (PKB).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menilai gugurnya para caleg berlatar belakang artis itu menunjukkan bahwa popularitas tak selalu sejalan dengan elektabilitas.
Musikus Ahmad Dhani Prasetyo diprediksi gagal melaju ke Senayan. (Foto: CNN Indonesia/Farid) |
Hendri menyebut terdapat beberapa faktor kegagalan para artis untuk melangkah ke parlemen. Pertama, kata dia, keberadaan caleg petahana yang sudah punya nama di dapil yang sama dengan para artis itu.
Dia menyebut para caleg petahana dipastikan memiliki berbagai modal politik di wilayah itu. Salah satunya adalah modal sebagai 'selebritas politik', yang membuatnya lebih dulu dekat dengan warga.
Selain itu, Hendri menyebut modal lain yang dimiliki caleg petahana adalah sudah lebih mengetahui seluk-beluk maupun karakter masyarakat di dapilnya. Keunggulan lain caleg petahana adalah investasi politik yang sudah lebih lama ditanamkan di dapilnya.
"Sementara para caleg petahana ini jauh lebih dekat ke rakyat dibanding artis-artis yang baru masuk. Jadi persaingannya itu. Itulah yang membuat mereka kesulitan," kata dia.
Kader PKB Arzeti Bilbina, satu dari sedikit artis yang lolos ke DPR dalam Pileg 2019. (Christie Stefanie) |
Ia sendiri menilai blusukan itu sangat penting bagi para caleg untuk memperkenalkan diri serta meyakinkan masyarakat. Terlebih lagi, kata dia, banyak masyarakat di suatu wilayah yang belum mengetahui ada sosok artis yang memutuskan maju menjadi caleg di wilayahnya.
"Karena mereka bisa memperkenalkan diri mereka sebagai caleg, kan selama ini masyarakat mengenal mereka sebagai selebritis, bukan sebagai politikus," kata Hendri.
"Jadi makin susah rakyat untuk mengingat tokoh-tokoh yang akan dipilih. Apalagi harus bersaing dengan [pemberitaan calon] presiden," kata dia.
Dikutip dari CNN Indonesia TV, presenter Muhammad Farhan yang maju sebagai caleg DPR dari dapil Jabar I mengakui modal popularitas sama sekali tak cukup. Hal itu dibuktikannya dengan nasib salah satu rekannya yang merupakan artis sinetron yang nyaleg pada 2009.
Ketika itu, kata Farhan, sang rekan menyebut tak perlu kampanye karena sudah bermodal popularitas. Hasilnya, kata dia, "kalah habis".
"Sebagai caleg tetap harus datang perkenalkan diri lagi, jelaskan kenapa tidak jadi artis lagi, dan jadi politisi. Itu PR," ucapnya.
"Dan harus yakinkan pula kita nyaleg bukan sekedar gagayaan, tapi punya pekerjaan, punya program," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]
(rzr/arh)
KPU sudah menetapkan hasil rekapitulasi nasional Pileg 2019. Hasilnya, PDIP memimpin. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
"Sebagai caleg tetap harus datang perkenalkan diri lagi, jelaskan kenapa tidak jadi artis lagi, dan jadi politisi. Itu PR," ucapnya.
"Dan harus yakinkan pula kita nyaleg bukan sekedar gagayaan, tapi punya pekerjaan, punya program," tandasnya.
[Gambas:Video CNN]
Musikus Ahmad Dhani Prasetyo diprediksi gagal melaju ke Senayan. (
Kader PKB Arzeti Bilbina, satu dari sedikit artis yang lolos ke DPR dalam Pileg 2019. (
KPU sudah menetapkan hasil rekapitulasi nasional Pileg 2019. Hasilnya, PDIP memimpin. (