"PP Muhammadiyah sejak awal, bahkan ormas-ormas Islam bertemu wakil presiden Jusuf Kalla menyampaikan imbauan dan ajakan agar Jokowi dan Prabowo bertemu," ujar Haedar seperti dikutip Antara, Kamis (23/5).
Haedar menilai pernyataan yang telah dikeluarkan oleh kandidat pilpres 2019, baik Jokowi, Prabowo, Sandiaga Uno sudah ada usaha untuk berdamai dan menjalin silaturahim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Haedar kemudian mengajak semua tokoh dan warga bangsa agar kembali pada titik berbangsa dan bernegara yang bersatu dalam Bhinneka Tunggal Ika. Menurut dia, dinamika politik juga selama kampanye sampai pengumuman pilpres 2019 adalah bagian kita dari berekspresi berpolitik dan demokratis
Haedar juga menekankan semua warga bangsa harus mengakhiri semua proses tersebut sesuai dengan konstitusi, mengacu pada sila keempat pancasila, yakni hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
"Artinya, kita harus mengakhiri proses Pemilu 2019 ini dengan kearifan dengan tanggung jawab dan kedewasaan, sikap cerdas dan bersatu kembali sebagai keluarga besar bangsa," kata Haedar.
Lihat juga:Prabowo, Wiranto, dan Kenangan 22 Mei 1998 |
Lebih lanjut, Haedar juga mengatakan bahwa warga Muhammadiyah tidak terlibat dalam aksi pada 21 dan 22 Mei di depan kantor Bawaslu dan KPU.
"Muhammadiyah apalagi dengan membawa nama organisasi tidak ada yang terlibat dalam aksi," ujar Haedar.
[Gambas:Video CNN] (antara/dal)