"Besok kita akan aksi jam satu siang. Aksi ratusan buruh di Komnas HAM," ujar Presiden KSPI Said Iqbal di Hotel Mega Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (28/5).
Dinas Kesehatan DKI merilis total ada delapan korban tewas dan ratusan lain terluka akibat aksi protes di depan Gedung Bawaslu pada 21 hingga 23 Mei. Polri telah membentuk tim investigasi untuk mengusut penyebab korban berjatuhan. Tim investigasi dipimpin Irwasum Polri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Oleh karena itu untuk mencari tau ini yang berat atau tidak, dibutuhkan tim pencari fakta yang independen. Instrumen kita secara konstitusional sudah menyediakan Komnas HAM," tutur Said.
TPF untuk Petugas KPPS
KSPI juga meminta pembentukan TPF mengusut ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia saat Pemilu 2019 lalu.
Deputi Presiden dan Ketua Harian KSPI Muhamamad Rusdi mengatakan hal ini mesti dilakukan lembaga seperti Komnas HAM lantaran pihak pemerintah seperti kementerian tidak mau membentuk TPF kasus tersebut.
"Kita meminta kepada Komas HAM besok agar membentuk tim pencari fakta atau TPF untuk menuntaskan isu ini," ujar Rudi.
Rusdi menyebut kematian ratusan petugas KPPS sarat dengan tudingan rekayasa. Ia ingin agar TPF dapat memberikan kejelasan terhadap keresahan masyarakat. Dengan demikian akhir dari proses pemilu bisa diterima semua pihak.
Sebelumnya, Komnas HAM telah menyampaikan hasil investigasi yang mencatat beberapa temuan di antaranya pengabaian perlindungan kesehatan terhadap anggota KPPS dalam melaksanakan tugas Pemilu 2019.
"Sehingga mereka (anggota KPPS) ketika bermasalah secara fisik tidak mendapatkan prioritas penanganan, tidak memiliki asuransi kesehatan dan ketenagakerjaan sehingga berdampak pada pembiayaan untuk berobat secara mandiri," kata Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik, di Komnas HAM, Jakarta, Selasa (21/5).
"Implikasinya pelayanan terbatas dan akhirnya meninggal dunia," kata Taufan menambahkan.