Polda Jabar akan menyiapkan skema rekayasa lalu lintas untuk mengantisipasi imbas pemberlakuan one way di tol tersebut.
Kepala Bidang Humas Polda Jabar Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko memprediksi akan terjadi hambatan di jalur nontol atau arteri imbas dari pemberlakuan one way.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kata Trunoyudo, Polda Jabar telah berkomunikasi dengan Polda Jateng, dan Mabes Polri terkait peralihan kendaraan akibat kebijakan satu arah yang diberlakukan di Tol Trans Jawa mulai dari gerbang tol (GT) Cikampek Utama sampai GT Brebes Barat itu.
"Maka tidak menutup kemungkinan dari Kamis sore itu sudah mulai puncak mudik. Kami prediksi mulai 29-31 Mei," katanya. (hyg)
Namun, secara teknis akan diberlakukan dengan menerapkan lawan arus atau contraflow terlebih dahulu dengan jadwal rute one way hanya diberlakukan 15 jam.
Rekayasa lalu lintas ini mulai 30 Mei hingga 2 Juni 2019 dan diterapkan sejak Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 29-61, pukul 06.00-21.00 WIB. Kemudian one way diterapkan mulai Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 69 hingga Jalan Tol Brebes Barat KM 263 pukul 09.00-21.00 WIB.
Jasa Marga memprediksi puncak arus mudik jatuh pada tanggal 31 Mei 2019 (H-5) dan puncak arus balik pada tanggal 9 Juni 2019 (H+3).
Dari sekitar 1,3 juta kendaraan mudik yang meninggalkan Jakarta tersebut, Jasa Marga memperkirakan distribusi lalu lintas mudik sebesar 58,68 persen menuju ke arah Timur (arah Jawa Tengah) melalui Jalan Tol Jakarta-Cikampek, 26,68 persen menuju ke arah Barat (Merak) melalui Jalan Tol Jakarta-Tangerang, 14,64 persen menuju ke arah Selatan (Puncak) melalui Jalan Tol Jagorawi.
[Gambas:Video CNN] (hyg/ugo)