Hal itu ia sampaikan untuk merespon pernyataan Ahli Digital Forensik Ruby Alamsyah yang menyebutkan terdapat beberapa serangan siber ditujukan kepada KPU pada saat hari pencoblosan atau pada 17 April 2019.
"Kalaupun terjadi [serangan siber] kan juga tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap perolehan suara masing-masing peserta pemilu," kata Pramono kepada CNNIndonesia.com, Selasa (28/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia lantas menyindir berbagai pihak yang kerap mengatakan sistem IT milik KPU bermasalah di Pemilu kali ini sebagai orang yang tak mengerti tentang teknis penyelenggaraan pemilu di Indonesia.
Sebab, kata dia, keputusan resmi hasil Pemilu serentak tahun 2019 ditetapkan melalui mekanisme rekapitulasi penghitungan secara manual dan berjenjang. Penghitungan suara secara berjenjang sendiri dimulai dari rekapitulasi dari tingkat TPS, kecamatan, hingga ke tingkat nasional.
"Bahwa penghitungan dan rekapitulasi sama sekali tidak menggunakan Situng, tapi masih paper base. Dengan cara manual," kata dia.
Sebelumnya Ahli IT Ruby Alamsyah mengatakan sistem IT milik KPU mengalami serangan oleh denial-of-service (DDos).
Ruby mengatakan DDos ini kemudian akan membuat server KPU down. Ketika server down, masyarakat dibuat bertanya-tanya mengenai hal tersebut.
Tak hanya itu, Ruby juga mengatakan ada upaya yang dilakukan peretas untuk menyerang Situng KPU. Peretas berusaha untuk mengubah angka hasil perhitungan dalam Situng.
[Gambas:Video CNN] (rzr/ugo)