Hal itu dikatakannya dalam pernyataannya sebagai inspektur upacara dalam apel gelar pasukan operasi Ketupat 2019, di Monas, Jakarta Pusat, Selasa (28/5). Sebanyak 2.992 personel gabungan mengikuti apel ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, tampak pula Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Kepala Basarnas Marsekal Madya (TNI) Bagus Puruhito.
Gelar pasukan Operasi Ketupat 2019. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Dia menyebut potensi kerawanan kali ini meliputi serangan teror; kejahatan yang meresahkan masyarakat, seperti perampokan, penjambretan, begal, dan premanisme.
Kemudian, aksi intoleransi dan kekerasan, seperti aksi sweeping oleh ormas; gangguan terhadap kelancaran dan keselamatan transportasi darat, laut, dan udara; permasalahan terkait stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok; dan bencana alam.
Menurut dia, operasi ini diselenggarakan di 34 Polda dengan 11 Polda prioritas. Operasi ini akan melibatkan 160.335 personel gabungan, yang terdiri atas 93.589 personel Polri, 13.131 personel TNI, 18.906 personel Kementerian dan Dinas terkait, 11.720 personel Satpol PP, dan 6.913 personel Pramuka, serta 16.076 personel organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan.
"Akan digelar 2.448 Pos Pengamanan, 764 Pos Pelayanan, 174 Pos Terpadu, dan 12 lokasi check point sepeda motor pada pusat aktivitas masyarakat, lokasi rawan gangguan kamtibmas, serta lokasi rawan gangguan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas," ucapnya.
Pasukan TNI ikut terjun dalam Operasi Ketupat 2019. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Tito meyakini Operasi Ketupat 2019 akan berhasil sebagaimana tahun sebelumnya. Untuk itu, dia meminta semua jajaran agar mempersiapkan secara optimal seluruh aspek penyelenggaraan operasi.
[Gambas:Video CNN] (ryn/arh)
Gelar pasukan Operasi Ketupat 2019. (
Pasukan TNI ikut terjun dalam Operasi Ketupat 2019. (