Hal tersebut, menurutnya, menjadi salah satu temuan kunci dari riset yang dilakukan pihaknya terkait peta ancaman atas negara Pancasila di PTN pada Februari hingga April 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tulisan tokoh-tokoh dengan kepakaran agama sangat mumpuni seperti Quraish Shihab, Gus Mus, dan TGB tidak mendapat tempat dalam forum-forum tertutup kelompok Islamis tersebut. Mereka lebih lebih suka menyimak tulisan atau ceramah Felix Siauw, Salim A Fillah, dan Adi Hidayat," kata Halili dalam sebuah diskusi di Hotel Ibis Jakarta Tamarin, Jakarta Pusat pada Jumat (31/5).
Gerakan itu, lanjutnya, secara aktif menawarkan forum diskusi alternatif untuk menjawab kebutuhan mahasiswa yang mulai bertransformasi menjadi masyarakat urban. Pada saat yang sama, sejumlah mahasiswa kini juga mengalami kekeringan spiritualitas masyarakat modern dan perkotaan.
"Gerakan keagamaan eksklusif tidak hanya menawarkan pemahaman Islam sebagai 'teologi pascakematian', tapi juga membangun ghirah keislaman untuk bangkit dari ketertindasan oleh konspirasi nasional dan global, serta memiliki kewaspadaan yang tinggi dalam perang pemikiran (ghazwul fikr) yang sedang berlangsung," katanya.
Pemikiran dari kaum Islam pluralis dan pembaharu di Indonesia seperti Nurcholish Madjid, Ahmad Syafii Maarif, atau Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak pernah menjadi bahan diskusi, kecuali dalam konteks indoktrinasi bahaya ancaman pemikiran liberal.
[Gambas:Video CNN] (mts/arh)