"Berdasarkan pantauan kondisi atmosfer terkini, terdapat indikasi peningkatan kelembaban atmosfer di wilayah Indonesia," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R Prabowo, seperti yang dikutip dari Antara, Sabtu (1/6).
Dia menjelaskan pemicu utama yang menyebabkan hal tersebut adalah aktivitas gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO), yang mulai memasuki wilayah Samudera Hindia (Kuadran 2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Tiket Pesawat Mahal, Pemudik Banjiri Jalanan |
Diperkirakan pada 1-5 Juni potensi terjadi hujan deras antara lain di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung
Tak hanya potensi hujan deras, ancaman dari angin kencang juga diperkirakan terjadi di beberapa wilayah seperti Banten, Jawa Barat, NTT, Maluku serta Papua.
Selain itu, ia menambahkan, ketinggian gelombang akan mengalami peningkatan dari 2,5 meter hingga 4 meter di Perairan Utara Sabang, Perairan Selatan Pulau Rotte-Kupang, Perairan Barat Aceh, Laut Sawu, Perairan Barat Pulau Simeulue hingga Kepulauan Mentawai.
Sementara itu Laut Timor Selatan NTT, Perairan Bengkulu - Pulau Enggano, Samudera Hindia Selatan Bali hingga NTT, Perairan Barat Lampung, Perairan Timur Kepulauan Wakatobi, Samudera Hindia Barat Aceh hingga Kepulauan Mentawai, Laut Banda bagian selatan.
Kemudian di Selat Sunda bagian selatan Perairan Kepulauan Letti hingga Tanimbar-Perairan Selatan Jawa, hingga Sumbawa-Perairan Selatan Kepulauan Kei hingga Aru-Selat Bali-Lombok-Alas bagian selatan, Laut Arafuru-Perairan Selatan Pulau Sumba hingga Pulau Sawu.
Gelombang setinggi 4-6 meter juga berpotensi terjadi di Samudera Hindia Barat Bengkulu, hingga selatan Jawa.
Masyarakat diimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan dari cuaca ekstrem tersebut seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, serta potensi gangguan transportasi laut akibat angin kencang, dan gelombang tinggi.
[Gambas:Video CNN] (agr)