Kondisi itu membuat mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault khawatir.
"Yang kami khawatirkan Pak SBY, karena beliau sangat cinta dan tadi beliau menangis terus sampai matanya bengkak," katanya kepada media di rumah duka Ani Yudhoyono, Puri Cikeas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah ditinggal Ani yang mengembuskan napas terakhir di National University Hospital Singapura, Sabtu (1/6) pukul 11.50 waktu setempat, SBY terus berlinang air mata. Apalagi Ani telah mendampinginya selama lebih dari 40 tahun.
Kehilangan seseorang yang dicintai memang bisa berpengaruh secara psikologis, bahkan sampai ke fisik. Itu juga pernah 'menyerang' Presiden ke-3 Republik Indonesia, BJ Habibie saat ditinggalkan istrinya, Ainun 2010 lalu. Habibie mengaku dirinya sampai depresi.
Habibie pernah mengakui, ia didiagnosis menderita psikosomatik malignant oleh dokter.
Lihat juga:SBY akan Tulis Cerita tentang Ani Yudhoyono |
Saat itu ia punya empat opsi: masuk rumah sakit jiwa, tinggal bersama dokter yang terus mengawasi kondisinya, mencurahkan isi hati kepada teman, atau curhat pada diri sendiri.
Habibie saat itu mengambil opsi terakhir. Bentuk curhatnya adalah tulisan. Habibie menulis buku untuk Ainun berjudul Habibie & Ainun, yang terbit pada tahun yang sama seperti meninggalnya sang istri. Buku itu ia selesaikan hanya dalam waktu 2,5 bulan.
Menulis buku untuk Ani sempat disebut SBY saat melepas jenazah sang istri. Ia mengatakan, "Kami keluarga ingin mewujudkan cita-cita Ibu Ani yang sederhana, bahwa Ibu banyak cerita. Saya akan tulis insyaallah, untuk menjadi pengetahuan bagi saudara kami bahwa ada seorang manusia biasa yang terlahir sebagai Kristiani Herrawati kemudian jadi Ani Yudhoyono."
Presiden ke-6 Republik Indonesia itu sebelumnya sudah pernah menulis beberapa buku.
[Gambas:Video CNN] (tst/antara/rsa)