Penetapan itu berdasarkan perhitungan tim hisab tarekat yang berpusat di Bandar Tinggi, Simalungun, Sumatera Utara.
"Penetapan tersebut disebutkan didasarkan pada hisab qamariah," kata Ketua Majelis Fatwa Naqsabandiyah, Syekh Anwar Sajali, Senin (3/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan ketetapan 1 Syawal 1440 ini sudah disosialisasikan kepada jemaah Tareqat Naqsyabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah yang ada di seluruh Indonesia.
"Perbedaan penetapan 1 Syawal antar daerah memang sudah menjadi hal biasa dalam tarekat ini. Nyaris setiap tahun, selalu ada perbedaan penetapan Idul Fitri karena perbedaan melihat bulan. Ini terjadi karena ada perbedaan hisab," jelasnya.
Salat dilangsungkan pada pukul 08.00 WIB. Usai salat, kegiatan itu tidak langsung dilanjutkan dengan khotbah, melainkan pembacaan takbir dan doa sekitar 30 menit.
Baru setelah itu pemimpin Jamaah Tarekat Naqshabandiyah Surau Baitul Makmur, Syafri Malin Mudo menyampaikan ceramah.
Menariknya, khotbah yang dibacakan dalam bahasa Arab itu didahului azan. Syafri kemudian berdiri sembari memegang tongkat kayu dan membacakan materi khotbah dari sebuah buku.
[Gambas:Video CNN] (frd/ugo)