"Mereka percaya ketika mereka melakukan aksi terorisme, atau bom bunuh diri yang membuat pelaku meninggal, maka meninggal dalam keadaan syahid," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri Brigjen Dedi Prasetyo dalam konferensi pers di Mabes Polri, Selasa (4/6).
"Kelompok tersebut melakukan amaliah di bulan suci Ramadan, karena ada kepercayaan di kelompok tersebut bahwa bulan suci Ramadan itu bulan amaliahnya mereka."
Selain insiden semalam, sebelumnya pada Juli 206 juga terjadi bom bunuh diri di Mapolresta Solo dan pelemparan granat di Tugu Gladak, Solo, pada 2012. Sementara pada tahun lalu terjadi insiden bom Surabaya di tiga gereja yang menewaskan 13 orang termasuk pelaku, hanya beberapa hari sebelum bulan Ramadan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kurang lebih dalam 19 tahun, polisi melakukan pendekatan hukum terhadap jaringan atau kelompok terorisme di indonesia. Baik pada masa yang pertama itu berafiliasi dengan Osama bin Laden. Berikutnya tahun 2014 dan 2018 itu berafiliasi dengan ISIS," kata Dedi.
Dedi menjelaskan Densus 88 telah melakukan pemetaan penyebaran jaringan terorisme di seluruh Indonesia yang mencakup seluruh Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi Selatan.
Lihat juga:Kartasura Sudah Kondusif usai Ledakan Bom |
(gst/vws)