Ferry menyebut usulan pembubaran koalisi itu belum tepat untuk dilaksanakan saat ini. Ia menyatakan keputusan mengenai nasib koalisi parpol pendukung Prabowo-Sandiaga akan dibahas usai ada keputusan resmi dari Mahkamah Konstitusi (MK).
"Kalau sekarang rasanya belum tepat [koalisi dibubarkan]. Ya menurut saya nantilah kalau nanti MK sudah ada keputusan siapa presiden terpilihnya," kata Ferry kepada CNNIndonesia.com, Minggu (9/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya abis dari MK mungkin nanti ada pertemuan dari parpol koalisi begitu untuk membahas itu. Saya rasa partai koalisi akan membahas tentang itu," kata Ferry.
Diketahui, tahapan Pilpres 2019 akan berakhir saat dibacakannya sumpah janji pelantikan presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober 2019 mendatang. Habiburokhman pun tak keberatan dan menghormati langkah Demokrat yang ingin keluar dari koalisi Prabowo-Sandiaga.
"Ngerti hukum gak ? Koalisi Itu Tanda tangan resmi Paslon Pilpres di KPU, tahapan Pilpres selesai saat Sumpah Janji Pelantikan Presiden dan Wapres 20 Oktober 2019, jangan malas baca UU dan PKPU. Jangan kau balik dunia, kalau mau keluar kami hormati," cuit Habiburokhman saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com.
[Gambas:Twitter]
Melihat hal itu, politikus Partai Gerindra itu menyarankan agar Demokrat tak melulu menyerang Prabowo-Sandiaga dengan argumentasi hukum yang lemah. Ia menyarankan agar Demokrat mau menjelaskan kepada masyarakat pertimbangan politiknya secara lebih terhormat ketimbang terus menerus bermanuver di dalam koalisi Prabowo-Sandiaga.
"Dahulu kami juga ditinggal Perindo yang dukung Jokowi tapi tidak ada masalah dan tidak perlu ada salah menyalahkan," ucap dia.
(rzr/agt)