Direktur Eksekutif Amnesty Indonesia, Usmad Hamid menilai, hal yang disampaikan polisi dalam konferensi pers tidak menyeluruh. Polisi dinilai gagal mengungkap fakta penting dalam peristiwa tersebut.
"Ini menyakitkan bagi keluarga korban yang hari ini berharap polisi mengumumkan ke publik siapa yang melakukan penembakan kepada korban," ujar Usman, Selasa (11/6), melansir ANTARA.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seharusnya polisi mengungkapkan bukti-bukti yang memadai tentang penyebab kematian korban terlebih dahulu, lalu mengumumkan siapa yang patut diduga sebagai pelaku penembakan," ujar Usman.
Selain itu, Amnesty Indonesia juga menyoroti kurangnya akuntabilitas penggunaan kekuatan berlebih oleh aparat kepolisian. Salah satunya menyangkut dugaan penyiksaan yang terjadi di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Kendati demikian, Usman mengakui, kepolisian berada dalam kondisi yang tidak mudah dalam kerusuhan tersebut. Meski menjadi target penyerangan dan banyak aparat yang terluka, penggunaan kekuatan berlebih juga tetap harus ditindak.
Sebelumnya, kepolisian mengungkap mantan Kepala Staf Konstrad Mayjen (Purn) Kivlan Zen sebagai aktor utama rencana pembunuhan empat jenderal.
Polisi juga menyebut ada perencanaan matang di balik kerusuhan di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan sejumlah titik lainnya pada 21-22 Mei 2019.
[Gambas:Video CNN] (antara/asr)