Ratna saat membacakan pembelaannya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (18/6), tampak menangis. Air matanya meleleh saat mengatakan dirinya mengarang kebohongan karena malu dengan usianya yang sudah lanjut tetapi masih operasi plastik.
Di sisi lain Ratna mengaku sadar kasus kebohongannya akan dikaitkan dengan politik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut menurut Ratna kebohongannya juga tidak menimbulkan kebencian atau permusuhan di tengah masyarakat. Dia mengaku hanya berbohong untuk menutup operasi plastik yang dilakukannya kepada anak-anaknya.
"Semata-mata untuk menutupi pada anak-anak saya, dalam usia saya yang sudah lanjut saya masih melakukan operasi plastik sedot lemak," ucapnya dengan terisak.
Dia lantas menjelaskan pertemuannya dengan sejumlah tokoh BPN. Kata Ratna, pertemuan itu untuk meminta saran soal dana swadaya Papua yang diperoleh dari dana raja-raja nusantara yang diblokir pemerintah.
"Dana swadaya Papua itulah alasan utama saya merasa perlu bertemu Fadli Zon dan kawan-kawan di BPN," tuturnya.
Ratna mengaku tak pernah menyangka hoaks yang ia karang membuatnya mendekam di penjara hingga sekarang.
Jaksa juga menilai Ratna tidak memenuhi unsur pasal 44 KUHP terkait penyakit kejiwaannya. Permintaan maaf Ratna dinilai tidak dapat menghapus tindakan pidananya.
Berita bohong pemukulan Ratna bermula pada September 2018. Ketika itu, sejumlah politikus mengabarkan Ratna Sarumpaet dipukul sekelompok orang di Bandung. Foto-foto Ratna lebam beredar di media sosial.
Namun, Ratna akhirnya mengaku luka lebam itu bukan disebabkan oleh pemukulan melainkan operasi kecantikan. (gst/wis)