Selain ke Bamsoet, Doli juga mempersilakan kader-kader Golkar lain yang ingin maju menjadi calon Ketum Golkar penantang calon petahan Airlangga Hartato untuk melakukan langkah serupa.
"Bamsoet atau siapapun nanti yang akan ikut mencalonkan diri juga sebagai calon Ketum Golkar, silakan saja untuk menyampaikan gagasan alternatif ke depan untuk dikontestasikan," kata Doli dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, hal tersebut akan kontraproduktif untuk kelangsungan Golkar ke depan.
Menurutnya, Airlangga telah berhasil mengembangkan kembali tradisi konsolidasi secara partisipatif turun ke bawah untuk mengajak seluruh pimpinan dan kader partai bergerak dan bekerja melakukan pemenangan Golkar.
Dia menambahkan Airlangga dianggap mampu membawa Golkar keluar dari masa sulit.
"Kepemimpinan Airlangga telah mampu menunjukkan kembali betapa Golkar memiliki ketahanan yang tinggi dalam menghadapi kesulitan sebesar apapun," ujarnya.
Sebelumnya, Ketua DPD Golkar Jawa Timur, Zainudin Amali, mengatakan bursa calon Ketum Partai Golkar mendatang baru diisi oleh nama Airlangga dan Bamsoet.
Menurutnya, belum ada nama lain yang bakal mencalonkan diri di luar dua nama tersebut, yang akan bertarung pada Munas Golkar pada Desember 2019 mendatang.
"Belum ada [selain Airlangga dan Bamsoet]," kata Zainudin di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Selasa (18/6).
Hasil Munas Luar Biasa pada 2017 dan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Golkar menjadwalkan Munas pada Desember 2019 mendatang.
Namun, pada Mei lalu, sekitar 25 DPD Partai Golkar tingkat I dan II melakukan konsolidasi untuk mempercepat penyelenggaraan munas.
Jumlah perolehan kursi DPR RI Golkar yang hanya berada di angka 85 disebut menjadi kegagalan Airlangga sebagai ketum. Pihak yang mendesak percepatan munas itu pun memperkirakan bahwa persiapan akan dimulai usai Lebaran atau pada pertengahan Juni nanti. (mts/pmg)