Menurut Maher, Prabowo Subianto tidak perlu membawa partainya berkoalisi dengan pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin 2019-2024 mendatang. Kata Maher, Gerindra dan Prabowo lebih baik menjadi bagian pihak yang kalah dan tidak meloncat ke kubu pemenang.
"Kalau saya bilang jangan, proses demokrasi itu adalah pemilihan. Jadi yang kalah biar tetap kalah, yang menang, menang," kata Maher di rumah Prabowo, Jalan Kertanegara, Kamis malam (27/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biar yang kalah di luar menjadi oposisi, kalau enggak bukan demokrasi. Masa semua pada kongkow-kongkow. Jangan, yang sehat dong," kata Maher.
"Besar sekali, makanya, ini kan bukan masalah Prabowo atau apa, ini masalah 45 persen itu 70 juta lebih. Harus dihargai," kata Maher "Demokrasi harus selalu ada check and balance, jadi yang kuasa dikontrol oleh oposisi."
Maher mengakui bahwa di internal Gerindra ada pihak yang berharap menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi-Maruf. Meski begitu, ada pula yang menolak.
Maher seolah enggan larut dalam pro dan kontra tersebut. Menurutnya, itu adalah hal yang biasa dalam organisasi.
Perihal agenda pertemuan Prabowo dan Jokowi yang masih abu-abu, Maher tidak mau menanggapi serius. Dia menegaskan bahwa Prabowo dan Jokowi berkawan Baik satu sama lain. Karenanya, pertemuan antara keduanya bukan perkara sulit.
"Enggak ada problem dua duanya, sering ketemu kok. Jadi kalau you bicara ketemu, enggak ada masalah," ucap Maher.
[Gambas:Video CNN] (bmw/ugo)