"Iya betul awan cumulonimbus itu yang muncul secara tiba-tiba," kata Petrus Demon Silli, Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V Jayapura, Provinsi Papua, seperti dilansir ANTARA, Sabtu (29/6).
Petrus lantas menjelaskan bahwa awan comulunimbus sendiri merupakan sebuah awan yang berbentuk vertikal menjulang yang sangat tinggi, padat, dan di dalamnya terdapat badai petir dan cuaca dingin lainnya.
Ia menambahkan bahwa awan comulunimbus memiliki elemen yang dapat mengganggu aktivitas penerbangan sehingga dianggap sangat berbahaya. Petrus menyatakan saat ini kondisi cuaca di Oksibil sedang memasuki musim pancaroba sehingga mudah menyebabkan munculnya awan berjenis itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, Petrus juga menjelaskan bahwa perubahan cuaca bisa terjadi sangat cepat terutama saat siang hari di wilayah pegunungan Papua. Apalagi letak geografis Papua berdekatan dengan Samudera Pasifik yang bisa menjadi pemicu utama terciptanya awan comulunimbus.
Oleh karena itu, Petrus mengimbau pencarian Helikopter itu lebih baik dilakukan pada pagi hari bila melalui udara.
Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf M Aidi mengungkapkan kontak terakhir dengan helikopter itu pada pukul 11.49 WIT di ketinggian 7800 ft, 6 NM ke utara.
Helikopter yang hilang kontak mengangkut 12 orang, terdiri dari 7 orang kru dan 5 personel Satgas Yonif 725/Woroagi.
(rzr/vws)