Kata Hasto, kemungkinan Koalisi akan berlanjut untuk melaksanakan visi dan misi presiden dan wakil presiden yang digaungkan selama masa kampanye pada September 2018 lalu.
"Setelah selesai, (koalisi) diteruskan dan dimaknai untuk melaksanakan visi dan misi presiden dan juga bagaimana sistem presidential efektif," kata Hasto di Gedung KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (30/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alih-alih pembagian jatah menteri untuk setiap partai baik oposisi maupun koalisi, kualifikasi menteri justru menjadi modal Jokowi untuk melakukan reformasi pembangunan dan memilih kandidat terbaik untuk menjadi pembantunya.
Meski begitu dia mengaku tak menutup kemungkinan setiap parpol akan menyodorkan nama-nama kader terbaiknya untuk dijadikan menteri oleh Jokowi. Hanya saja kata Hasto, pemilihan menteri itu semua sepenuhnya hak presiden.
Terkait pertemuan antara Jokowi dan Prabowo, menurut Hasto semuanya tinggal menunggu waktu. Pertemuan itu kata Hasto pasti terjadi hanya saja belum dalam waktu dekat.
"Saya rasa tinggal menunggu waktu saja. Proses komunikasi terus dilakukan. Pak Prabowo sosok pemimpin. Tantangan sebagai bangsa, mendengarkan masukan pak Prabowo menjadi hal yang positif," katanya.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani menyatakan Koalisi Indonesia Adil dan Makmur telah selesai.
Koalisi ini sebelumnya didukung oleh Gerindra, PKS, PAN, dan Partai Demokrat. Empat partai itu mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019. (tst/eks)