Kalimat tersebut terlontar dari mulut Jokowi saat ditanya kapan bertemu dengan Prabowo Subianto, pesaingnya dalam Pilpres 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, upaya Jokowi membuka komunikasi lewat Luhut untuk bertemu belum berhasil. Tak sampai disitu, mantan Wali Kota Solo itu berinisiatif meminta Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga politikus senior untuk bertemu Prabowo.
Menko Perekonomian Luhut Pandjaitan belum sukses mempertemukan Jokowi dan Prabowo. (REUTERS/Darren Whiteside) |
Jokowi menyatakan keinginan bertemu dengan Prabowo karena untuk mendinginkan suasana usai Pilpres. Ia menyebut pertemuan tersebut juga akan dilihat baik oleh masyarakat luas.
"Dilihat baik oleh masyarakat, akan dilihat baik oleh rakyat. Mendinginkan suasana, bahwa elite-elite politik rukun-rukun saja. Enggak ada masalah," kata Jokowi beberapa waktu lalu.
"Nanti kita lihat ya, semuanya ada waktunya," kata Prabowo usai bertemu Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di Puri Cikeas, awal Juni 2019.
Direktur Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojuddin Abbas menilai belum terlaksananya pertemuan kedua tokoh yang bertarung di Pilpres 2019 karena banyak pertimbangan yang tengah dipikirkan Prabowo.
Direktur Program SMRC Sirojuddin Abbas menyebut setidaknya ada empat faktor penghambat pertemuan Jokowi-Prabowo. (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Menurut Abbas, setidaknya ada tiga situasi yang membuat Prabowo masih belum menyambut ajakan bertemu Jokowi itu.
Pertama, kata Abbas, hambatan psikologis. Pasalnya, Prabowo dan timnya butuh waktu untuk bisa memperbaiki hubungan dengan Jokowi dan pendukungnya setelah kalah dua kali berturut-turut dalam kontestasi Pilpres.
Kondisi tersebut, kata Abbas, tak hanya dialami Prabowo secara personal, melainkan juga keluarga besarnya, termasuk keluarga Presiden ke-2 RI Soeharto, hingga tim pendukungnya.
"Ada situasi psikologis yang masih harus diatasi, terutama situasi emosi yang tinggi untuk diturunkan dulu," ujarnya.
Politikus Partai Berkarya, yang juga putri Presiden ke-2 Soeharto, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, yang juga salah satu pendukung Prabowo. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
Menurutnya, tanpa persiapan, terutama penjelasan kepada para pendukung dan pemilihnya soal pertemuan, Prabowo bisa dituding macam-macam.
Abbas menyebut Prabowo maupun Gerindra tentu tak ingin pertemuan itu justru merugikan bagi mereka. Ia mengatakan saat ini mereka belum cukup siap untuk menerima pertemuan politik tersebut, yang berarti mengakui kekalahan sendiri dan mengakui keunggulan Jokowi.
Abbas menilai Prabowo masih memikirkan reaksi para pendukungnya jika dirinya bertemu dengan Jokowi yang telah ditetapkan sebagai presiden terpilih. Ia menyatakan di kelompok pendukung Prabowo masih ada yang menolak rencana pertemuan ini.
Menurutnya, kelompok ini masih kecewa dan sakit hati jagoannya kalah. Terlebih, api kekecewaan ini 'dibakar' oleh pendukung Prabowo sendiri dengan memakai sentimen agama.
Aksi demonstrasi oleh massa beratribut keagamaan pendukung Prabowo-Sandi menentang dugaan kecurangan Pilpres 2019 sambil membawa isu keagamaan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Oleh karena itu, Abbas menyarankan Prabowo dan mesin politiknya, seperti Gerindra, PKS, dan para relawan, menyediakan waktu terlebih dahulu untuk menjelaskan kepada pendukungnya agar mereka bisa menerima.
"Menjelaskan dulu kepada konstituennya, tentang manfaat dan target-target yang akan dicapai oleh Prabowo ketika bertemu pak Jokowi, jadi secara politik bisa diterima oleh konstituen," tuturnya.
"Anda harus mengerti ini pertarungan politik tingkat tinggi, dua kali ya [kalah]. Kadang-kadang kepala desa saja butuh berminggu-minggu untuk ketemu, ini level kepala desa, gimana presiden?" kata Abbas.
Kadung Benci
Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menduga ada kekhawatiran dari Prabowo ditinggal pendukungnya karena mau bertemu dengan Jokowi. Pasalnya, banyak para pendukung Prabowo yang kadung benci terhadap Jokowi.
Namun, menurut Ujang, Prabowo harus bertatap muka langsung dengan Jokowi sebagai upaya mendinginkan suasana di tengah masyarakat selepas konstelasi politik yang panas.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
Ujang mengatakan Prabowo juga tak ingin pertemuan dengan rivalnya itu tak sekedar basa-basi tanpa solusi demi memulihkan masyarakat yang terbelah. Terlebih, kata Ujang, Prabowo memiliki beban lantaran sejumlah pendukungnya menjadi tersangka selama masa Pilpres ini.
Penetapan tersangka para pendukung Prabowo itu tak bisa dilepaskan dari konteks Pilpres 2019.
Ujang menyatakan pertemuan Prabowo dengan Jokowi hanya tinggal menunggu momentum. Ia meyakini Prabowo akan membuka komunikasi langsung dengan Jokowi. Menurutnya, Prabowo adalah sosok negarawan yang tak mungkin menolak bertemu Jokowi.
"Jadi pertemuan tersebut pasti akan terjadi. Ini hanya soal waktu. Soal momentum," tuturnya.
[Gambas:Video CNN] (fra/arh)
Menko Perekonomian Luhut Pandjaitan belum sukses mempertemukan Jokowi dan Prabowo. (
Direktur Program SMRC Sirojuddin Abbas menyebut setidaknya ada empat faktor penghambat pertemuan Jokowi-Prabowo. (
Politikus Partai Berkarya, yang juga putri Presiden ke-2 Soeharto, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, yang juga salah satu pendukung Prabowo. (
Aksi demonstrasi oleh massa beratribut keagamaan pendukung Prabowo-Sandi menentang dugaan kecurangan Pilpres 2019 sambil membawa isu keagamaan. (
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi