Pada Pilpres 2014, hanya sekitar 40 persen partai pengusung Jokowi yang memenuhi kursi parlemen. Namun jumlah ini meningkat hingga 60 persen setelah Golkar, Partai Amanat Nasional, dan Partai Persatuan Pembangunan yang semula oposisi bergabung dengan koalisi Jokowi. Jumlah ini tak berbeda jauh dari hasil yang diperoleh pada Pileg 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wacana oposisi untuk merapat ke koalisi Jokowi pun menguat. Gerindra, Demokrat, dan PAN dinilai berpeluang besar gabung dengan koalisi petahana tersebut. Ketiga partai itu beberapa kali memberi sinyal peluang untuk bergabung. Sementara PKS tetap berkukuh menjadi oposisi.
Pasangan Presiden-Wakil Presiden terpilih Joko Widodo-Ma'ruf Amin disebut akan memiliki parpol koalisi yang gemuk di parlemen. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
"Kalau memang Jokowi ingin merangkul yang baru tentu harapannya lima tahun ke depan akan dukung kebijakan Jokowi di parlemen, sehingga memudahkan kerja pemerintah," ujar Cecep saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (3/7).
Kendati demikian, Cecep menilai komposisi partai koalisi Jokowi yang terlalu 'gemuk' tak akan menjamin pemerintahan berjalan efektif. Sama halnya jika jumlah oposisi sedikit, maka proses check and balances dalam pemerintahan akan terganggu.
Pada dasarnya, lanjut Cecep, dalam sistem presidensial tak mengenal istilah oposisi. Namun dalam praktiknya, partai pengusung yang tak terpilih tetap harus berada di luar pemerintahan agar menjadi penyeimbang.
"Di sistem presidensial kan seharusnya tidak ada oposisi, cuma ini saja presidensial rasa parlementer," ucapnya.
Partai Golkar disebut sebagai salah satu parpol yang kerap berseberangan dengan pemerintah meski masuk dalam partai koalisi pendukung SBY. (Safir Makki) |
"Tentu semakin banyak partai yang gabung harus dipikirkan masing-masing partai dapat jatah berapa. Ini tidak bisa dipungkiri. Makanya di koalisi Jokowi ada semacam resistensi karena khawatir mengurangi jatah kalau ada partai baru yang masuk," katanya.
Selain itu, pengelolaan koordinasi dan komunikasi di antara partai koalisi juga diyakini akan lebih rumit. Berkaca dari masa pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono, saat itu hampir semua partai bergabung dengan koalisi presiden RI keenam itu, kecuali PDIP. Alih-alih efektif, hal itu justru membuat SBY kewalahan mengurusi koalisi partainya sendiri.
Sama halnya jika oposisi terlalu sedikit, fungsi kontrol terhadap pemerintah dinilai akan semakin melemah. Hal ini, kata dia, akan diperparah apabila koalisi pemerintah mampu terbangun dengan solid.
"Misalnya cuma PKS yang oposisi, dia akan kesulitan mengontrol karena suaranya menjadi sangat minoritas. Problemnya akan bertambah kalau koalisi besar ini sangat solid. Meskipun selama ini tidak ada jaminan koalisi besar ini pasti solid," terangnya.
Prabowo Subianto dan Jokowi disebut memiliki kedekatan sejak lama. (REUTERS/Darren Whiteside) |
Menurut Firman, di antara keempat partai, Gerindra memiliki kans paling besar karena partai berlambang burung garuda itu ada di posisi kedua setelah PDIP dalam pileg kemarin.
"Tentu yang pertama Gerindra, kemudian baru Demokrat, PAN, dan PKS yang relatif perolehannya tujuh sampai delapan persen. Jadi signifikan kalau dia (Gerindra) masuk," ucapnya.
Pertimbangan lain, lanjut Firman, adalah soal ideologi dan kedekatan elite masing-masing partai. PDIP sebagai pemimpin partai koalisi dinilai akan lebih mudah merapat pada partai nasionalis seperti Gerindra dan Demokrat.
"Terlepas dari head to head pilpres kemarin, Prabowo ini dekat dengan Jokowi dan Megawati. Peluangnya ada di situ. Tapi yang harus dilihat kan basis massa, ada resistansi atau tidak," ujar Firman.
Sementara apabila Gerindra tetap memilih sebagai oposisi, peluang Demokrat dan PAN dinilai akan lebih terbuka untuk bergabung dengan koalisi.
"Hanya saja saya tidak membayangkan semua masuk. Ini akan jadi problem karena bisa mencapai 90 persen. Secara sistem demokrasi, ada potensi jadi masalah karena oposisi lemah," tuturnya.
[Gambas:Video CNN] (psp/arh)
Pasangan Presiden-Wakil Presiden terpilih Joko Widodo-Ma'ruf Amin disebut akan memiliki parpol koalisi yang gemuk di parlemen. (
Partai Golkar disebut sebagai salah satu parpol yang kerap berseberangan dengan pemerintah meski masuk dalam partai koalisi pendukung SBY. (
Prabowo Subianto dan Jokowi disebut memiliki kedekatan sejak lama. (