"Ada 5 alat ukur fixed station dan 3 mobile stations yang berpindah-pindah," kata Andono saat dihubungi, Jumat (5/7).
Andono menjelaskan bahwa empat dari lima alat ukur itu terdapat di Bundaran HI (Jakarta Pusat), Jagakarsa (Jakarta Selatan), Lubang Buaya (Jakarta Timur), dan Kebon Jeruk (Jakarta Barat). Sementara yang versi mobile stations digunakan saat acara-acara besar seperti car free day.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada riset yang dilakukan baik dari luar maupun Pemprov DKI. Ada beberapa pendekatan misalnya per 1 juta penduduk 1 alat. Kita kan ada 13-an juta penduduk, jadi 13 alat," jelas dia.
Untuk satu alat ukur tergolong mahal, yakni sekitar Rp5 miliar. Andono menjelaskan pengadaan alat dimaksud masih dalam tahap diskusi di Pemprov DKI Jakarta.
"Lihat saja di link lingkungan hidup. Tapi memang belum ada mobile app. Itu akan dibuat, kami sudah ada datanya tapi belum sampai ke sana," tutup dia.
Sebagai informasi, Dinas LH dan Kebersihan DKI menyebut 75 persen kontribusi polusi udara di Jakarta berasal dari transportasi. Selain itu polusi juga paling banyak dihasilkan dari sektor ekonomi dan industri.
Untuk itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berencana menambah alat ukur dan membuat aplikasi khusus untuk memantau kualitas udara di Ibu Kota.
[Gambas:Video CNN] (ctr/osc)