Polisi Ringkus Penjual Kulit Harimau Sumatra di Langkat

CNN Indonesia | Sabtu, 06/07/2019 02:12 WIB
Polisi Ringkus Penjual Kulit Harimau Sumatra di Langkat Ilustrasi kulit harimau. CNN Indonesia/Safir Makki
Jakarta, CNN Indonesia -- Petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) meringkus seorang petani berinisial P (27). Pria ini menjual bagian tubuh harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) seperti kulit dan tengkorak hewan yang dilindungi itu.

"Pelaku ditangkap petugas TNGL di Simpang Sogong, Marike, Kutambaru, Langkat, Senin (1/7) malam lalu," kata Kepala Seksi Wilayah I Balai Gakkum LHK Sumut-Aceh, Haluanto Ginting di Medan, Jumat (5/7).

Haluanto mengatakan penangkapan berawal saat petugas mendapat informasi terkait adanya seseorang yang menjual kulit harimau dalam bentuk kepingan. Atas dasar informasi itu, petugas lantas menyamar menjadi pembeli dan berpura-pura akan membeli kulit harimau dari tersangka.


"Setelah ditangkap, esok harinya, Selasa, TNGL menyerahkan tersangka dan barang bukti kepada kami," jelasnya.


Dari operasi penyamaran itu, petugas berhasil mengamankan pelaku dengan barang bukti berupa 2 lembar kulit harimau berukuran besar, selembar kulit harimau berukuran kecil, sebilah belati dan satu unit telepon genggam dan satu tengkorak yang diduga tengkorak harimau Sumatera.

"Dari pemeriksaan awal terhadap tersangka, bagian tubuh harimau itu merupakan warisan keluarga karena sudah ada sejak kecil. Jadi dia mengaku kulit ini milik kakeknya. Dan sudah dikuasainya sejak 2013 lalu," jelas Halaunto.

Menurutnya, petugas menduga kulit harimau itu berasal dari harimau yang dijerat di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Dugaan itu didasarkan pada lokasi kediaman keluarga tersangka yang berdekatan dengan taman nasional itu.

"P selama ini menjual potongan kulit harimau dengan harga antara Rp100 hingga Rp200 ribu. Sedangkan dua lembar kulit harimau besar itu rencananya dijual seharga Rp57 juta. Dia berharap mendapatkan uang itu untuk memperbaiki kuburan orangtuanya dan modal membeli ternak," terangnya.

Dalam kasus ini, P dijerat dengan Pasal 21 junto Pasal 40 UU RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman paling lama 5 tahun penjara dan denda Rp100 juta.

"Saat ini, tersangka masih dititipkan di Polda Sumut untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kami imbau masyarakat yang masih menyimpan bagian tubuh satwa yang dilindungi, kami imbau untuk menyerahkan kepada petugas. Jika tidak, saat nanti ketahuan bisa dipidana," tegasnya.


(fnr/ain)


ARTIKEL TERKAIT