Pascagempa, BMKG Pantau Intensif Gunung Bawah Laut di Maluku

CNN Indonesia | Senin, 08/07/2019 03:24 WIB
Pascagempa, BMKG Pantau Intensif Gunung Bawah Laut di Maluku Ilustrasi. (AFP PHOTO / ROMEO GACAD)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan memantau aktivitas gunung api bawah laut yang ada di sekitar lokasi gempa bumi di wilayah Ternate, Maluku Utara dengan intensif selama sepekan ke depan.

Pengamatan intensif 24 jam itu dilakukan setelah gempa berskala 7,0 skala richter yang mengguncang wilayah tersebut pada Mingg (7/7) tengah malam. Akibat gempa tersebut, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami yang lalu diakhiri sekitar dua jam setelahnya.

"Lokasi di sekitar gempa bumi di Maluku Utara banyak gunung api, dan yang dikhawatirkan adalah gunung api bawah laut sehingga BMKG akan memantau selama 24 jam dalam tujuh hari ke depan," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly, Senin (8/7) dini hari.


Dia menjelaskan gunung api bawah laut terdapat di wilayah utara Manado dan sekitar Ternate sehingga harus terus dipantau dalam satu pekan ke depan. Menurut dia, BMKG juga memantau kondisi terkini di wilayah Maluku Utara khususnya terkait gempa susulan yang sudah terjadi sebanyak 19 kali hingga Senin pukul 00.54 WIB.

"Kami pantau gempa susulan sudah 19 kali dan relatif menurun. Kami harap terus menurun dan bisa menjadi stabil," ujarnya.


Dia mengatakan BMKG akan berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam memantau aktivitas gunung api bawah laut di wilayah sekitar Malut.

Episentrum gempabumi terletak pada koordinat 0,53 LU dan 126,18 BT, atau tepatnya berlokasi di dasar laut pada kedalaman 49 km pada jarak 133 km arah barat Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.

BMKG menilai gempa bumi yang terjadi di Ternate, Maluku Utara pada Minggu (7/7) malam merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat deformasi kerak bumi pada lempeng Laut Maluku.

Menurut BMKG dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat deformasi kerak bumi pada lempeng Laut Maluku.

Gempa tersebut memiliki mekanisme sesar naik atau thrust fault akibat adanya tekanan atau kompresi lempeng mikro Halmahera ke arah barat, dan tekanan lempeng mikro Sangihe ke arah timur.

Akibatnya menurut dia, lempeng laut Maluku terjepit hingga membentuk double subduction ke bawah Halmahera dan ke bawah Sangihe.

(Antara/kid)