Hingga Senin (8/7), warga masih bertahan di bukit. Mereka mengaku masih takut dan trauma, meski petugas setempat telah memastikan status siaga tsunami telah berakhir.
Pantauan CNNIndonesia.com, warga enggan turun dan memilih menetap di perbukitan bersama keluarga. Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah berulangkali mengimbau para warga untuk turun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, hingga saat ini belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa pascagempa semalam. Sebagian warga yang sudah turun ke pusat kota, sudah kembali beraktivitas seperti sedia kala.
BMKG pun mencatat selang tiga detik kemudian, 22.08.42 WIB terjadi gempa susulan dengan kekuatan 7,0 SR.
Kasi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Winangun, Manado, Edward H Mengko mengatakan setidaknya ada empat gempa susulan lanjutan.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan gempa bumi yang terjadi di Ternate, Maluku Utara pada Minggu (7/7) malam merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat deformasi kerak bumi pada Lempeng Laut Maluku.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat deformasi kerak bumi pada Lempeng Laut Maluku," kata Dwikorita dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (8/7) dini hari.