Dalam aksi penyelamatannya, Wright dan Wilson yang bekerja dalam tim Satgas yang dibentuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini menggunakan bantuan pesawat nirawak, perangkap, pelampung, umpan ayam, dan tombak.
"Itu (tombak) yang digunakan tidak akan menyakiti buaya. Rasanya (ketika terkena kulit buaya) hanya sedikit sakit seperti saat menindik telinga," ujar Wright di Palu, Kamis (13/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Umpan ayam diharapkan bisa dimangsa sehingga keberadaan buaya 'berkalung ban' lebih mudah diidentifikasi.
Selain menggunakan pesawat nirawak, tim penyelamat juga menyusuri kembali Sungai Palu menggunakan perahu karet milik Polairud Polda Sulteng.
Namun hingga saat ini berbagai cara tersebut belum berhasil melepaskan ban yang membelit leher buaya.
Menurut tim ada beberapa faktor yang menjadi kendala saat proses evakuasi. Badan sungai yang terlalu luas hingga ribuan warga yang menyaksikan langsung proses evakuasi menghalangi upaya penyelamatan yang telah berlangsung hampir sepekan. (antara/evn)