Terkait itu, BNPB sendiri mendapat arahan khusus dari Presiden Joko Widodo untuk membuat hujan buatan mengatasi kekeringan di beberapa daerah.
"Tadi arahan Bapak Presiden, BNPB untuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan bantuan hujan buatan," kata Doni di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut pihaknya memprediksi puncak musim kemarau tahun ini akan terjadi pada Agustus. Sementara dampak kekeringan akibat kemarau itu bakal berlangsung sampai September mendatang, untuk wilayah yang berada di sebelah selatan garis khatulistiwa.
"Itu yang paling luas di bulan Agustus puncak musim kemaraunya. Dampaknya kekeringan itu masih berjalan sampai September untuk wilayah selatan itu," kata Dwikorita.
Menurutnya, musim kemarau kemudian akan melanda wilayah yang berada di utara garis khatulistiwa pada Oktober sampai Desember. Ia menyebut musim kemarau memang tak serempak terjadi di seluruh wilayah Indonesia.
"Keringnya berjalan nyebrang khatulistiwa, jadi ke arah utara. Itu sampai Desember itu masih ada kekeringan di Kalimantan Utara, masih ada. Jadi tidak seragam," ujarnya.
"Karena nanti ketersediaan air akan mengalami defisit terutama di sepanjang Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Timur, sampai Papua itu akan defisit air juga, kering," tuturnya.
[Gambas:Video CNN] (fra/osc)