Agenda itu digagas tak lama setelah presiden terpilih periode 2019-2024 Joko Widodo bertemu dengan pesaingnya, Prabowo Subianto.
Peneliti Populi Center Rafif Pamenang Imawan menilai ijtimak ulama ke-4 bermuatan politis. Menurutnya, pertemuan itu untuk menjaga soliditas gerakan 411 dan 212 dalam menekan sejumlah isu ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan GNPF akan tetap menjaga isu dan eksistensinya untuk kepentingan pemilu. Menurutnya, kekuatan gerakan itu tidak akan signifikan dan ditinggalkan para pendukungnya.
"Ini berkaitan dengan agenda upaya untuk mengirimkan pesan bahwa kelompok ini masih relevan dan menjadi kekuatan alternatif di luar partai politik," ujarnya.
Dia meragukan ada peran Partai Keadilan Sejahtera di balik ijtimak ke-4. Tak semua yang bersepakat dengan gagasan perjuangan Islam mau menempuh jalur demokrasi, apalagi melalui partai politik.
Prabowo Subianto saat menghadiri Itjima Ulama 3 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, 1 Mei 2019. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
"Itjma pada dasarnya hanya menambah keyakinan dari pemilih Prabowo yang memang sejak awal sudah mantap pilihannya," ujar Rafif.
Selain itu, isu politik berbasis agama tidak efektif untuk skala pilpres. Menurutnya, isu itu hanya efektif di tingkat pemilihan kepala daerah.
"Jadi, kuat tidaknya, tergantung bagaimana kelompok ini mencoba tetap relevan dengan isu-isu yang telah dibangun. Jika tidak, akan rontok dengan sendirinya," kata Rafif.
Lihat juga:PA 212: Selamat Tinggal Prabowo Subianto |
Pakar komunikasi politik, Lely Arrianie menilai ijtimak secara umum hanya untuk menentukan dan mendukung calon presiden pada pilpres lalu.
"Yang sebenarnya punya kepentingan lanjutan itu adalah koalisi pengusung. Tapi Pak Prabowo juga telah mengatakan koalisi sudah bubar pasca selesainya Pilpres," ujar Lely kepada CNNIndonesia.com.
Lely menduga ada kemungkinan ijtimak tersebut menjadi momentum GNPF-Ulama membentuk parpol. Meskipun hal itu tak mudah karena harus memenuhi persyaratan UU Parpol.
Selain itu, Lely menilai tak tepat jika ijtimak ulama diadakan sebagai bentuk kekecewaan atas pertemuan Prabowo dan Jokowi. Pengakuan kekalahan Prabowo dan pertemuannya dengan Jokowi, kata Lely, justru seharusnya didukung.
Dia menilai ijtimak ulama hanya berpengaruh bagi kelompok yang memilih menjadi bagian di luar pemerintahan. Usai pilpres, belum ada lagi tokoh yang mereka dukung sejak Prabowo bertemu Jokowi.
[Gambas:Video CNN] (jps/pmg)
