Polisi Periksa 9 Siswa Terkait Kematian Siswa SMA Taruna

CNN Indonesia | Selasa, 23/07/2019 00:49 WIB
Polisi Periksa 9 Siswa Terkait Kematian Siswa SMA Taruna Satuan Reserse Kriminal Polresta Palembang memeriksa sembilan anak SMA Semi Militer Plus Taruna Indonesia terkait kematian siswa usai mengikuti masa orientasi. (CNN Indonesia/Hafidz Trijatnika)
Palembang, CNN Indonesia -- Satuan Reserse Kriminal Polresta Palembang sudah memeriksa sembilan anak SMA Semi Militer Plus Taruna Indonesia terkait kematian WJ (16), siswa yang meninggal setelah mengikuti masa orientasi.

"Ini masih penyelidikan tahap awal, kita periksa 9 siswa SMA Taruna. Penyelidikan masih dikembangkan dan jumlah saksi yang diperiksa akan bertambah. Belum ada kesimpulan apa pun," ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Palembang Komisaris Yon Edi Winara, Senin (22/7).

Yon kemudian mengatakan bahwa pihaknya telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap pihak lain dari sekolah, yakni guru dan kepala sekolah.


Pihaknya pun akan memeriksa keluarga korban WJ sebagai pihak pelapor sembari melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan di area sekolah.

Penyidik Satreskrim Polresta Palembang juga sudah meminta hasil visum et repertum atas jenazah WJ untuk menjadi barang bukti penguat terhadap penyebab kematian siswa baru SMA Taruna tersebut.

"WJ belum bisa dikatakan korban karena masih dalam proses penyelidikan. Belum ada kesimpulan apa pun. Kita sudah minta hasil visum, tapi belum kita terima dari keluarga. Untuk hubungan kematiannya dengan DBJ pun masih diselidiki," ujar dia.

Kuasa hukum keluarga WJ, Firli Darta, mengatakan bahwa WJ dibawa ke RS Karya Asih setelah mengeluh sakit di tengah kegiatan MOS di SMA Taruna Indonesia masih berlangsung, Sabtu (13/7) pagi hari.
Setelah dikabari pihak sekolah, keluarga WJ pun langsung ke rumah sakit. WJ mengeluhkan sakit di bagian perut.

Orang tua WJ, Suwito dan Nuraina, melihat kondisi perut WJ yang membengkak. Mereka terkejut melihat luka lebam di bagian punggung WJ.

Setelah mendapatkan hasil diagnosis dokter pada sore hari, WJ mengalami usus terbelit dan harus menjalani operasi.

"Sebelum operasi itu, WJ ditanyai orang tuanya kenapa lebam. Dia jawab digebuki, dipukuli, lalu perutnya ditendang. Ditanya lagi siapa yang pukuli, WJ jawab 'komandan' kata dia," ujar Firli usai pemakaman WJ di TPU Telaga Swidak Palembang, Sabtu (20/7).
Pascaoperasi yang dilakukan hingga tengah malam, WJ tak kunjung sadar. Kondisinya yang sempat kritis mengharuskan keluarga merujuk WJ ke intensive care unit (ICU) RS RK Charitas.

Sempat dalam kondisi koma selama 6 hari, WJ akhirnya mengembuskan napas terakhir Jumat malam.

Menurut Firli, keluarga WJ hanya satu kali bertemu dengan pihak sekolah, yakni saat pertama kali WJ masuk rumah sakit.

Sejak saat itu hingga dikebumikan Sabtu (20/7) siang, pihak sekolah masih tertutup kepada keluarga. Sikap itu membuat pihak keluarga kecewa.
"Tidak pernah ada yang menjenguk ataupun mengucapkan belasungkawa dari pihak sekolah ke keluarga. Pihak sekolah kami lihat masih tertutup. Kalau pihak yayasan sempat membesuk di rumah sakit. Mereka juga bilang siap jika harus diinvestigasi," ujar Firli.

Firli menegaskan bahwa WJ dalam kondisi sehat sebelum mengikuti proses MOS. Saat mendaftar sebagai siswa SMA Taruna Indonesia, WJ diharuskan mengikuti tes kesehatan.

"WJ dipastikan sehat tidak menderita penyakit apa-apa karena lulus tes kesehatan dari sekolah. Jadi ini ada penyebab lain yang menyebabkan ususnya terbelit atau bocor itu," ujar dia. (idz/has)


BACA JUGA