"Ini masih penyelidikan tahap awal, kita periksa 9 siswa SMA Taruna. Penyelidikan masih dikembangkan dan jumlah saksi yang diperiksa akan bertambah. Belum ada kesimpulan apa pun," ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Palembang Komisaris Yon Edi Winara, Senin (22/7).
Yon kemudian mengatakan bahwa pihaknya telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap pihak lain dari sekolah, yakni guru dan kepala sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"WJ belum bisa dikatakan korban karena masih dalam proses penyelidikan. Belum ada kesimpulan apa pun. Kita sudah minta hasil visum, tapi belum kita terima dari keluarga. Untuk hubungan kematiannya dengan DBJ pun masih diselidiki," ujar dia.
Orang tua WJ, Suwito dan Nuraina, melihat kondisi perut WJ yang membengkak. Mereka terkejut melihat luka lebam di bagian punggung WJ.
Setelah mendapatkan hasil diagnosis dokter pada sore hari, WJ mengalami usus terbelit dan harus menjalani operasi.
"Sebelum operasi itu, WJ ditanyai orang tuanya kenapa lebam. Dia jawab digebuki, dipukuli, lalu perutnya ditendang. Ditanya lagi siapa yang pukuli, WJ jawab 'komandan' kata dia," ujar Firli usai pemakaman WJ di TPU Telaga Swidak Palembang, Sabtu (20/7).
Sempat dalam kondisi koma selama 6 hari, WJ akhirnya mengembuskan napas terakhir Jumat malam.
Menurut Firli, keluarga WJ hanya satu kali bertemu dengan pihak sekolah, yakni saat pertama kali WJ masuk rumah sakit.
Sejak saat itu hingga dikebumikan Sabtu (20/7) siang, pihak sekolah masih tertutup kepada keluarga. Sikap itu membuat pihak keluarga kecewa.
Firli menegaskan bahwa WJ dalam kondisi sehat sebelum mengikuti proses MOS. Saat mendaftar sebagai siswa SMA Taruna Indonesia, WJ diharuskan mengikuti tes kesehatan.
"WJ dipastikan sehat tidak menderita penyakit apa-apa karena lulus tes kesehatan dari sekolah. Jadi ini ada penyebab lain yang menyebabkan ususnya terbelit atau bocor itu," ujar dia. (idz/has)