Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya Abdul Wachid Habibullah menegaskan penyitaan buku tersebut tak sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengharuskan ada proses peradilan terlebih dahulu, jika memang menganggap buku itu terlarang.
"Penyitaan terhadap buku-buku yang diduga melanggar peraturan perundang-undangan, harus dilakukan melalui proses peradilan, sebagaimana yang diperintahkan oleh putusan MK nomor 20/PUU-VIII/2010. Artinya, penyitaan tanpa proses peradilan merupakan proses eksekusi ekstra yudisial yang ditentang oleh negara hukum," kata Wachid, di Surabaya, Selasa (30/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wachid menambahkan penyitaan terhadap produk literasi secara sewenang-wenang ini, telah mencederai hak kebebasan berpendapat sebagaimana dijamin dalam Pasal 28 E Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bahwa kebebasan berpendapat khususnya yang dituangkan dalam bentuk produk akademik wajib dilindungi dan dijamin;
Selain itu, Wachid mengatakan LBH Surabaya juga mendesak agar Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Timur untuk mengambil langkah tegas, menegur Kapolres Probolinggo, agar memberikan sanksi kepada Kapolsek Kraksaan, atas tindakannya yang sewenang-wenang.
"Kapolres Kabupaten Probolinggo harus memberikan sanksi kepada Kapolsek Kraksaan atas tindak kesewenang-wenangan dalam melakukan penyitaan buku. Kami juga meminta aparat TNI tidak ikut campur dalam proses penegakan hukum yang termasuk dalam ranah sipil," ujar Wachid.
Sebelumnya, dua pegiat literasi di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Muntasir Billah (24) dan Saiful Anwar (25) harus berurusan dengan polisi karena membawa empat buku bertemakan komunisme dan D.N Aidit salah satu tokoh penting Partai Komunis Indonesia atau PKI.
Buku bertema komunisme dan Aidit itu masing-masing berjudul Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara diterbitkan oleh KPG Jakarta; Sukarno, Marxisme dan Leninisme: Akar Pemikirian Kiri dan Revolusi Indonesia diterbitkan Komunitas Bambu; Menempuh Jalan Rakyat, D.N Aidit diterbitkan oleh Yayasan Pembaharuan Jakarta; Sebuah Biografi Ringkas D.N Aidit oleh TB 4 Saudara.
Keduanya yang tergabung dalam komunitas Vespa Literasi itu, dibawa ke kantor Polsek Kraksaan, Sabtu (27/7) malam, untuk diperiksa lebih lanjut mengenai buku-buku tersebut, yang digelar di lapak baca buku gratis mereka. Usai diperiksa selama beberapa jam, Muntasir dan Saiful kemudian dipulangkan. Namum Polsek Kraksaan tetap menyita keempat buku tersebut.
[Gambas:Video CNN] (frd/dal)