Menurutnya, sikap Pansel Capim KPK yang lebih banyak tertutup dan pernyataan-pernyataannya yang bersifat defensif melahirkan kecurigaan bahwa rekayasa tengah terjadi dalam pencarian pemimpin di lembaga antirasuah saat ini.
Lihat juga:LSM Duga Seleksi Capim KPK Hanya Rekayasa |
Selain itu, kata dia, sikap Pansel Capim KPK yang seolah menutup mata terhadap kandidat yang belum menyampaikan LHKPN ke KPK juga turut memunculkan kecurigaan terjadinya rekayasa dalam proses seleksi kali ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tes psikologi untuk 104 capim KPK di Gedung Diklat Sekretariat Negara, Jakarta, Minggu (28/7). (CNN Indonesia/Andry Novelino) |
Sementara itu, pengamat hukum dari Universitas Indonesia Chudry Sitompul mengatakan rekayasa dalam proses seleksi akan merugikan dan mengancam pemberantasan korupsi di Indonesia.
"Kalau benar (rekayasa) sangat disayangkan. (Pimpinan KPK) mendatang berpotensi tidak independen, lalu KPK menjadi tidak obyektif," ucap Chudry.
Direktur Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Universitas Andalas, Feri Amsari menyatakan Panitia Seleksi calon pimpinan KPK tidak akan dapat mencari capim KPK yang baik. Menurutnya, hal itu terjadi karena pansel KPK diisi oleh sejumlah orang bermasalah.
Direktur Pusako Universitas Andalas Feri Amsari. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Feri mengingatkan soal pasal 29 UU KPK yang menyebut beberapa syarat pimpinan KPK. Yakni, WNI, tidak rangkap jabatan struktural atau parpol, tidak pernah melakukan perbuatan tercela, hingga mengumumkan kekayaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
"Ini maksudnya sebelum mereka mendaftar, penuhi dulu syarat-syarat itu. Jangan sampai orang sudah sampai ke akhir lalu bermasalah kewarganegaraanya, integritasnya, moralnya, menjabat jabatan lain," ujarnya.
"Kalau menuduh pakai bukti, merekayasanya apa, pakai bukti saja. Menuduh pakai bukti, bagaimana pemerintah merekayasa, termasuk ke Pandel, cari saja buktinya," kata dia.
Yenti mengklaim seluruh proses ataupun tahapan seleksi kandidat selama dibuka dan disampaikan kepada media. Dengan demikian, katanya, tak ada yang ditutupi selama proses seleksi dilakukan.
[Gambas:Video CNN] (jps/mts)
Tes psikologi untuk 104 capim KPK di Gedung Diklat Sekretariat Negara, Jakarta, Minggu (28/7). (
Direktur Pusako Universitas Andalas Feri Amsari. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)