Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan pihaknya belum menerima aduan secara resmi hingga saat ini, karena kedatangan pejabat Ditjen Dukcapil Kemendagri ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri pada Selasa (30/7) hanya untuk berkoordinasi.
"Saat ini masih tunggu laporan atau pengaduan resmi dari Dukcapil, karena mereka juga akan menyertakan bukti-bukti," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan pada Rabu (31/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tidak melaporkan orang. Kita hanya melaporkan ada kejadian peristiwa yang ada di facebook itu," Kata Zudan di kantor Ombudsman, Jakarta, Selasa (30/7).
Isu jual beli data NIK dan KK pertama kali ramai setelah dibicarakan pengguna media sosial Twitter Samuel Christian dengan akun @hendralm. Unggahan itu ramai dibicarakan dan diteruskan oleh akun Twitter lain hingga puluhan ribu kali.
"Ternyata ada ya yang memperjual belikan data NIK + KK. Dan parahnya lagi ada yang punya sampe jutaan data. Gila gila gila," tulis akun Twitter @hendralm.
Samuel juga memperlihatkan tangkapan layar (screenshot) yang menunjukkan percakapan tanya jawab yang terjadi di media sosial Facebook.
Dalam percakapan di kolom komentar tersebut, tampak terjadi penawaran dari koleksi data pribadi. Bahkan, ia mengungkap bahwa ada yang memiliki data NIK KTP dan KK sekecamatan dan mempergunakan data orang untuk daftar layanan Pay Later. (mts/wis)