Peneliti Hubungan Internasional CSIS, Fitriani menilai kunjungan Taliban ke Indonesia bagian dari komitmen politik luar negeri Indonesia, yakni mewujudkan perdamaian dunia.
Ia berkata Indonesia sejak awal terlibat dalam upaya membangun perdamaian di Afghanistan. Salah satu tindakan Indonesia dalam hal itu ditandai dengan kehadiran Wapres JK dan Menteri Luar Negeri Retno L. Marsudi dalam Afghanistan Peace Process di Kabul, Afghanistan, tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi perlu multi-track diplomacy. Jadi Bu Retno bertemu dengan Kementerian Luar Negeri Afghanistan. Sementara track satu lagi diakomodasi oleh pertemuan NU dan Taliban," ujarnya.
Terkait dengan upaya itu, Fitriani kembali menyampaikan Indonesia berharap pertemuan antara Taliban dengan pemerintah Indonesia bisa menunjukkan bagaimana kelompok Islam bisa berdamai dengan pemerintah.
Adapun soal peran Indonesia dalam perdamaian di sebuah negara sejatinya pernah dilakukan. Tahun 1990 misalnya, Indonesia menjadi mediator perdamaian untuk Kamboja.
"Alangkah baiknya jika Indonesia bisa menghasilkan bukti hasil kerjanya di masa menjadi anggota DK PBB 2019-2020 dengan mewujudkan perdamaian di Afghanistan," ujar Fitriani.
"Menurut saya kalau Taliban bertemu dengan PBNU sebenarnya kurang lengkap ya. Harusnya sekalian bertemu dengan GAM," ujarnya.
Meski begitu Fitriani menilai pemerintah Indonesia dan PBNU kurang melakukan diplomasi publik ketika menerima kunjungan Taliban. Ia melihat penjelasan pemerintah hanya seputar perdamaian di Afghanistan.
"Kurangnya diplomasi publik justru membuat kesan bahwa Indonesialah yang justru dipengaruhi Taliban dan menyetujui tindakan mereka," ujar Fitriani.
[Gambas:Video CNN] (jps/osc)