"Kami melihat dari sisi Walhi bahwa Bappenas ini dalam proses memberikan wacana untuk pemindahan ibu kota ini terkesan otoriter, karena dalam proses ini tidak melibatkan masyarakat," ujar Direktur Walhi Kalteng, Dimas Hartono di kantor Eksekutif Nasional Walhi, Jakarta, Kamis (1/8)
Dimas menyebut Bappenas tidak memberikan ruang masukan kepada masyarakat Kalimantan untuk melakukan kajian planologi, tata ruang, kajian masalah lingkungan dan pertimbangan lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Bambang enggan menerangkan secara lugas provinsi dan daerah mana di Pulau Kalimantan yang bakal ditunjuk menjadi ibu kota negara pengganti DKI Jakarta.
"Nanti diumumkan. Pulaunya Kalimantan, provinsinya nanti," kata Bambang di Jakarta, Senin (29/7).
Presiden Jokowi sendiri pernah mengunjungi Kalimantan Tengah untuk mengetahui kesiapan provinsi itu menjadi ibu kota negara. Namun Dimas mengatakan kunjungan Jokowi itu tidak cukup menjadi landasan kesiapan kota tersebut. Apalagi menurutnya argumen kesiapan pemerintah Kalteng juga tidak cukup meyakinkan.
"Pemerintah Kalteng pun hanya sekadar menyatakan 'kami akan menyiapkan lahan', hanya sebatas itu. Mereka tidak membuat kajian kenapa lahan itu layak menjadi ibu kota baru," kata dia.
"Memang dari dulu sudah saya sampaikan, pindah ke Kalimantan. Nah Kalimantannya, Kalimantan yang mana, nanti kita sampaikan Agustus," kata Presiden seperti dikutip dari Antara, Selasa (30/7).
Jokowi mengatakan kajian yang dibuat pemerintah belum rampung. Saat ini pemerintah masih berupaya menyelesaikan kajian pendukung.
"Kajiannya belum rampung, belum tuntas. Nanti kalau sudah rampung, sudah tuntas, dan detailnya sudah dipaparkan (seperti) kajian kebencanaan seperti apa, mengenai air, mengenai keekonomian, mengenai demografinya, masalah sosial politik, pertahanan keamanan. Semuanya memang harus komplet," katanya.
[Gambas:Video CNN] (ani/wis)