Catatan Guru Besar UI atas Wacana Impor Rektor oleh Dikti

CNN Indonesia | Sabtu, 03/08/2019 10:45 WIB
Guru besar UI mengatakan jika ingin dapat rektor asing berkualitas lebih baik membajak dari kampus elite di luar negeri, namun ada persoalan tersendiri. Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana. (Detikcom/Ari Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Guru besar Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana memberikan catatan perihal rencana Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengimpor ahli dari luar negeri untuk menjadi rektor perguruan tinggi di Indonesia.

Pria yang dikenal sebagai pakar hukum internasional itu mempertanyakan proses rekrutmen rektor asing jika nantinya jadi diterapkan pemerintah.

Jika Kemenristekdikti hendak mengimpor rektor dari luar negeri demi meningkatkan peringkat universitas-universitas Indonesia di dunia, kata Hikhamahanto, lebih baik 'membajak rektor dari kampus kelas atas dunia.


"Untuk mendapat rektor kelas atas dari luar negeri harus dengan membajak, artinya inisiatif Kemristek. Tapi ini menyimpang dari proses pencalonan rektor yang berlaku di kebanyakan kampus mapan," ujar Hikmahanto melalui keterangan tertulis, Jumat (2/8).


Hikmahanto mengatakan, proses pemilihan rektor di berbagai universitas Indonesia selama ini dilakukan dengan proses seleksi dari bawah. Sementara jika rekrutmen dilakukan dengan membajak artinya proses dilakukan langsung dari atas, dalam hal ini adalah Kemristek sebagai pihak yang berwenang.

"Konsekuensinya anggaran rumah tangga universitas yang mapan harus diamendemen. Tentu ini tidak mudah karena melibatkan banyak stakeholders," katanya.

Di satu sisi, Hikmahanto pun mengaku khawatir andai Kemenristekdikti mengambil calon rektor dari luar negeri yang menawarkan diri semata atau datang sebagia pencari kerja.

"Bila ini yang terjadi maka Kemristekdikti tidak akan mendapat calon rektor yang terbaik," ucap Hikmahanto.

Rencana pemerintah untuk mendatangkan rektor asing untuk universitas atau perguruan tinggi di Indonesia sebelumnya menuai polemik.


Menristekdikti Nasir menargetkan pada 2020 sudah terdapat perguruan tinggi yang dipimpin rektor terbaik dari luar negeri. Setidaknya, ditargetkan dalam lima tahun ke depan terdapat lima PTN yang akan dipimpin rektor asing.

Untuk memuluskan rencana tersebut, Nasir berencana merevisi peraturan agar WNA bisa memimpin dan mengajar serta meneliti di PTN.

Nasir bahkan mengklaim ada sudah ada calon rektor dari Korea yang sudah menawarkan diri. Namun, katanya, tak semudah itu saja bagi WNA untuk menjadi rektor di perguruan tinggi Indonesia.

"Kalau mereka ingin jadi rektor dari negara-negara asing paling tidak harus kita perhatikan dia punya network atau track record-nya. Kami nanti akan lakukan global bidding (penawaran global), pertama yang harus kita lihat adalah dia yang punya network, yang kedua pengalaman dia di dalam mengelola perguruan tinggi itu seperti apa, mampukah meningkatkan rating suatu perguruan tinggi itu menjadi lebih baik," kata Nasir kepada wartawan di Gedung Ristekdikti, Jakarta, Jumat (2/8) seperti dikutip Antara.

Selain itu Nasir mengatakan, calon rektor asing harus menunjukkan rekam jejak dalam meningkatkan performa perguruan tinggi, terutama dalam peningkatan hasil riset dan inovasi yang menjawab kebutuhan pasar.

"Ketiga, bagaimana bisa men-generate (membangkitkan) perguruan tinggi itu akan menjadi lebih baik dari masalah hasil inovasi, risetnya, menghasilkan pendapatan pada perguruan tinggi supaya bisa mendanai riset yang ada di perguruan tinggi. Kerja sama mereka itu seberapa jauh yang mereka lakukan, ini adalah di antaranya yang nanti akan kami lakukan persyaratan-persyaratan pada calon rektor asing," ia menjelaskan.

Nasir mengatakan nantinya penawaran posisi calon rektor perguruan tinggi dalam negeri kepada calon-calon dari luar negeri akan dilakukan secara terbuka supaya bisa menjaring peserta dengan kualitas tinggi.

Ia menuturkan ide mendatangkan rektor asing sudah ada sejak 2016, namun menuai pro kontra. Tahun ini, ia pun mengaku rencana itu mendapat persetujuan dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

"Saya bicara ini sudah 2016 tapi karena mereka mem-bully (merundung) saya habis-habisan ya saya setop dulu lah. Wah (sekarang) ini perlu di-challenge (ditantang) kembali nih, saya lebih keras lagi," ujarnya.

Dia optimistis rencana itu akan dilakukan, namun memang perlu perbaikan regulasi untuk mendukung rencana tersebut.

"Saya yakin ini adalah jalan keluar terbaik untuk negara, jalan terbaik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, saya hanya ingin Indonesia punya perguruan tinggi yang masuk 200 besar dunia," tuturnya.


[Gambas:Video CNN] (psp/kid)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK