Atas status tersebut, masyarakat pun direkomendasikan agar tidak berada atau beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah puncak gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut.
"Potensi ancaman bahaya Gunung Slamet saat ini adalah erupsi magmatik dengan lontaran material pijar yang melanda daerah di sekitar puncak di dalam radius 2 km, atau erupsi freatik dan hujan abu di sekitar kawah berpotensi. Kondisi tersebut terjadi tanpa ada gejala vulkanik yang jelas," demikian rilis dari Plh Kepala Pusdatin dan Humas BNPB Agus Wibowo yang diterima, Jumat (9/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain gempa-gempa tersebut, pada akhir Juli 2019 mulai terekam getaran tremor dengan amplitudo maksimum 0.5 - 2 mm. Getaran tremor ini masih terjadi hingga saat pelaporan. Energi kegempaan terdeteksi meningkat, secara gradual.
"Kemudian menurut hasil pengukuran suhu mata air panas pada 3 (tiga) lokasi menunjukkan nilai 44,8 hingga 50.8 °C. Nilai ini pada pengamatan jangka panjang berfluktuasi dan menunjukkan kecenderungan naik dibandingkan dengan pengukuran sebelumnya," ujar Agus.
Berdasarkan data-data pengamatan tersebut, kata Agus, PVMBG menyimpulkan Gunung Slamet mengalami aktivitas secara kegempaan dan deformasi yang cukup signifikan. Namun, secara visual belum teramati adanya gejala erupsi.
"PVMBG memprediksi bahwa potensi erupsi dapat terjadi sewaktu-waktu," ujar Agus seraya meminta masyarakat tidak terpengaruh dengan berita palsu atau hoaks yang dapat meresahkan dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
"Pemerintah Daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi dan Kabupaten setempat agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung," tegas dia.