Salah satu sopir omprengan, Dedi Undi (47), menilai kebijakan perluasan uji coba ganjil genap tak efektif karena mudah disiasati pengendara termasuk dirinya.
Ia mengaku kerap 'kucing-kucingan' dengan polisi atau petugas Dinas Perhubungan DKI di area ganjil genap saat jam sibuk. Dedi yang rutin mengangkut penumpang dari kalangan pekerja kantoran di Kota Bekasi menuju kawasan Kuningan ini menyiasati uji coba ganjil genap di lintasan Tol Jakarta-Cikampek dengan mengambil jalur alternatif Jalan Kalimalang-Cawang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat tidak ada petugas yang berjaga, Dedi lewat begitu saja karena tidak ada petugas yang mengawasi.
"Pelat nomor yang saya pakai hari ini ganjil. Sebenarnya ini pelat adik saya karena kebetulan tanggal ganjil. Besok baru saya pakai pelat yang asli (genap)," katanya.
Menurutnya, Pemprov DKI mesti meninjau ulang kebijakan perluasan ganjil genap ini. Alih-alih memperluas ganjil genap, Monang menilai moratorium kendaraan dan pembatasan mobil tua lebih efektif untuk mengurangi populasi kendaraan di ibu kota.
Ganjil genap baru akan efektif diberlakukan pada 9 September mendatang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Namun, menurutnya, tak semua petugas lalu lintas saat ini mau menerima uang suap. Ia menyebut sejumlah petugas lalu lintas yang bertugas di daerah perbatasan DKI biasanya bersikap lebih tegas.
Uji coba perluasan ganjil genap di Jakarta mulai diterapkan Pemprov DKI Jakarta, Senin (12/8) kemarin hingga 6 September mendatang. Kebijakan tersebut dikeluarkan demi menurunkan kadar polusi udara di ibu kota.
Ganjil genap yang semula hanya diterapkan di sembilan ruas jalan, kini berlaku di 25 ruas jalan Jakarta. Seperti sebelumnya, ganjil genap diterapkan pada Senin hingga Jumat, kecuali akhir pekan dan hari libur nasional mulai pukul 06.00-10.00 WIB dan pukul 16.00-21.00 WIB.
Perluasan ganjil genap akan sepenuhnya berlaku pada 9 September mendatang.
[Gambas:Video CNN] (psp/wis)
Ganjil genap baru akan efektif diberlakukan pada 9 September mendatang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)