Hal itu diucapkan langsung oleh Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho, di lokasi, pada Jumat (16/8) malam. Ia mengatakan dirinya mengerti apa yang dilakukan massa ini adalah wujud kecintaannya pada Tanah Air, namun hal itu dikatakan harus dilakukan sesuai koridor hukum yang berlaku.
"Kami mengimbau kepada massa tadi untuk kita mencintai bangsa ini, kita mencintai bendera sebagai lambang negara, tetapi juga tidak melanggar hukum, untuk itu kami minta mundur," kata Sandi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sedang mengumpulkan alat bukti yang ada dan mengumpulkan saksi-saksi, mudah mudahan, mohon doanya nanti kita bisa tuntaskan permasalahan ini dengan cara yang benar dengan tidak melanggar hukum," kata dia.
Informasi tersebut, kata Sandi juga tersebar ke sejumlah organisasi masyarakat (ormas) melalui grup WhatsApp. Alhasil ketegangan pun sempat terjadi di sekitar asrama yang berlantai dua ini.
"Kita sedang memetakan masalah tersebut ada ormas yang datang karena merasa bahwa bendera yang kita hormati, yang kita banggakan, ternyata dibuang ke selokan," kata Sandi.
"Jadi kita kan tidak boleh menegakkan hukum dengan melanggar hukum," ujarmya.
Pengamanan itu sendiri, kata dia, bertujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sandi mengatakan, pihaknya akan standby menunggu situasi berangsur kondusif hingga, Minggu (17/8) esok.
"Untuk malam ini tetap kita amankan, karena kita tidak mau spekulasi apabila ada kegiatan kegiatan lain yang tidak kita duga. Yang jelas di malam 17-an ini tetap kita akan jaga sampai dengan besok mudah kudahan tidak ada halangan," ujarnya.
Pantauan CNNIndonesia.com di lokasi, pukul 23.18 WIB, sejumlah massa ormas mulai berangsur meninggalkan lokasi. Namun sejumlah masyarakat sekitar tetap memadati depan Asrama Mahasiswa Papua. Lalu lintas di Jalan Kalasan kini juga telah berfungsi kembali. (frd/fea)