Menristekdikti Minta Demo Soal Papua Tak Ganggu Kampus

CNN Indonesia | Selasa, 20/08/2019 03:31 WIB
Menristekdikti Minta Demo Soal Papua Tak Ganggu Kampus Menristekdikti Mohamad Nasir meminta tak membesar-besarkan masalah terkait kerusuhan Papua. (CNN Indonesia/Mesha Mediani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir meminta aksi unjuk rasa terkait isu Papua tak mengganggu kegiatan di perguruan tinggi.

"Jangan sampai terjadi demo yang menutup kampus, yang mengakibatkan tidak kondusif. Akibat dari demo itu nanti sistem pembelajaran jadi terganggu, jangan sampai terjadi supaya pendidikan bisa berjalan dengan baik," ujar Nasir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/8).

Lebih lanjut, ia juga meminta seluruh pihak yang terlibat agar segera mengakhiri aksi. Ia menduga itu terjadi karena masalah yang dibesar-besarkan.


"Saya menghimbau pada masyarakat Indonesia yang dari Papua, mari kita jaga untuk konduktifitas. Jangan sampai kita membesar-besarkan masalah dan kita kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia," tekannya.

Terkait insiden Manokwari, Papua, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Oesman Sapta Odang alias OSO mengimbau kepala daerah tidak terlalu dini mengambil keputusan dan kesimpulan.

Menurutnya, kehatian-hatian kepala daerah dalam bersikap untuk mencegah kejadian yang tidak diharapkan.

"Saya pikir memang sebagai pimpinan kota kita harus memahami betul kejadian dan tidak cepat mengambil suatu kesimpulan atau keputusan yang menimbulkan reaksi-reaksi yang tidak enak," ujar dia di Gedung DPR, Jakarta, Senin (19/8).

Menurutnya, kerusuhan di Manokwari seharusnya tidak terjadi jika semua pihak menahan diri. Ia juga mengimbau pemerintah untuk memahami keinginan masyarakat Papua agar kejadian serupa tidak terulang.

"Harus kita selesaikan dengan kepala dingin, sejuk, dan menyejukkan karena ini bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia ini seluruhnya sama yang harus kita atasi bersama," ujarnya.

Sebelumnya, kericuhan terjadi saat unjuk rasa di Manokwari, Papua Barat, Senin (19/8). Aksi itu diduga terjadi sebagai respons atas penangkapan 43 mahasiswa Papua di Asrama Papua, Surabaya, Jawa Timur.

[Gambas:Video CNN] (jps/uli/arh)